Friday, December 25, 2009

Pers dan Etika polemik


Pers dan Etika polemik


Sengketa Media

Di Indonesia, kasus sengketa pers tidak diselesaikan dengan hukum perdata dan/atau pidana. Tapi lewat hak jawab dan hak koreksi. Ini mendapat legitimasi berdasar Undang-undang Pers No. 40 tahun 1999, jika diurai harus menempuh jalur ketiga teruntuk masuk tahap pidana: pemenuhan hak jawab dari narasumber oleh media, pengaduan pada dewan pers dan, terakhir, jalur pengadilan. Itu di Indonesia. Bagaimana di Masisir?

Baru kemarin, tentu masih lekat pada memori kita: sengketa pers antara buletin Informatika vis a vis (buletin) PPSU 2009.
Beberapa hal berkait pemberitaan di buletin Informatika pada edisi interaktif khusus Pemilu Presiden PPMI 2009 dianggap oleh (buletin) PPSU 2009 tidak memenuhi standart berita; dan sangat patut untuk diperkarakan, selain, menurutnya, itu menciderai netralitas dan independensi pers.

Menariknya, formula penyelesaian dalam sengketa itu mirip, atau merujuk, pada undang-undang pers No.40 tahun 1999—meski masih secara semu; dimana Informatika mempersilakan Buletin PPSU 2009 untuk menggunakan hak jawab dan koreksi. Meski masih kental dimensi kekeluargaannya, tapi itu sudah cukup mendidik.

Dari kasus di atas sebaga titik pijak, semerta penulis akan mengurai berkait hal yang mengitari sengketa pers dan beberapa hal yang sekiranya perlu untuk diperhatikan oleh khalayak.


Masisir dan Kebebasan Media

Secara ‘legitimet’, di Masisir tidak ada aturan normatif terkait media; tidak ada badan hukum atas ‘kasus-kasus’ terkait pers. Apapun jalur penyelesaian yang rekan-rekan media tempuh, itu masih bersifat kekeluargaan. Meski formulanya sama persis, namun kekerabatan masih menjadi satu-satunya unsur vital. Kekerabatan yang barangkali sangat manusiawi dan penuh kasih itu tentu selamanya ‘dinamis’. Dan pastinya yang diharapkan dari setiap aturan-aturan normatif ialah ia yang konsekuen dan prinsipil. Maka, keberadaan ‘Dewan Pers’ sebagai fasilitator dari dua hal sakral dalam dunia Pers, yang sementara ini masih ada—hanya—dalam jiwa-jiwa insan media, perlu diejawentahkan.

Dilema terjadi: di Masisir tak ada persatuan-kumpulan ‘antar pers’, berikut BPA PPMI, sebagai badan legislatif dan yudikatif, lumpuh dalam fungsi yudikasinya, bahkan bisa dibilang tak ada untuk urusan pers. Tentu harus memiliki alasan, boleh jadi pemerintah—dalam hal ini PPMI—memang acuh, atau ia merasa tengah memiliki peluang besar untuk mencipta citra diri di benak publik melalui media yang dikesankan bebas sebebas-bebasnya.

Meski sedemikian itu adanya, bukan berarti dua hak sakral itu tidak terpakai secara otomatis. Jika melihat fungsi, itu harus ditradisikan untuk mengatur tertibnya perihal sengketa pers; tentu hanya berdasar “kesadaran dan tahu diri” dari masing-masing pihak. Begitu kala memaparkan hak jawab maupun koreksi; hendaknya disampaikan dengan baik. Seperti yang saya pernah tulis: makna dari kata baik itu mempunyai dua catatan penting, benar dan santun.

Dewan Pers

Menjadi kewajaran kala berita-wacana-informasi tampil dengan reduksifikasi-reduksifikasi yang hadir dari subjektivitas atau ada dorongan dari pihak lain, dan tentu yang semacam ini patut diperkarakan. Bahkan harus disengketakan, guna meningkatkan kualitas tradisi jurnalistik Masisir. Dan barang tentu pula bukan melalui hukum pidana atau perdata, tapi hak jawab dan koreksi; dua hal sakral di dunia Pers.

Pertanyaan yang kemudian muncul: bagaimana langkah-langkah etis yang harusnya ditempuh guna mendapat dua hak itu?

Dewan pers hadir tak bisa lugu, tapi harus menjadi kesepakatan semua lini pers dan pemerintah—barangkali, dalam konteks di sini PPMI bisa mewakili pemerintah itu. Kesepakatan itu, nantinya, yang diharapkan bisa menjaga netralitas, sekaligus mengkompromikan independensi masing-masing dari setiap media. Sehingga apa yang disebuh kode etik jurnalisme (pers) bisa benar-benar dipahami sebagai yang tak berlawanan dengan hak bebas media.

Kata proporsional dan lugas, juga bisa membebek pada artikulasi kata benar tersebut: proporsional dalam ranah yang perlu diklarifikasi. Sebagai misal, dalam sebuah wawancara; validkah atau hanya sebatas rekonstruksi wawancara dari sana sini—perlu diketahui: rekonstruksi wawancara itu sah, tapi etikanya tak dijadikan head line; sumber data-berita; logika penulisan yang tak sesuai dengan realita yang kebetulan terjadi. Tentu sebagai rujukan standar dasar dalam pola penulisan berita yaitu, lima huruf W plus satu untuk huruf H.

Begitu pun tak bisa abai dengan makna kata santun. Kala kita menulis, apalagi kala menanggapi, secara tak sadar, kita diikat oleh apa yang sering disebut etika. Sedemikian itu bisa merembes dalam ranah formula penulisan atau pemilihan diksi. Hendaknya, tanggapan lebih berlandas-fungsi pada maslahat, bukan sebaliknya; memunculkan friksi baru semerta menjadi berkelanjutan. Seyogyanya kita bersikap manusiawi, meski tak mengawali. Jadi tak semena-mena menyudutkan, apalagi dengan menyulut ‘api’ baru.

Setelah itu, sepertinya perlu dari elemen-instansi Masisir yang mempunyai fungsi legislasi-yudikasi, mempunyai ‘gairah’ untuk memikirkan perihal hal ini, sengketa pers: bagaimana penyelesaian sengketa ini bisa usai dengan memenuhi standar legitimasi hukum formal ‘ala’ Masisir, begitu pun sisi kultur-tradisi tak tercerabut hilang begitu saja, apalagi usai dengan amoral. Tak jauh, juga tak terkecuali bagi khalayak yang mempunyai otoritas penuh dengan kata jurnalis, laiknya ada instrumen konsepsi untuk membentuk sejenis perkumpulan antar Pers menjadi satu semerta membentuk dewan pers dari masing-masing perwakilan. Meski mini tapi fungsi dari dewan pers sangat penting, bukan eksklusif untuk rekan-rekan Pers sendiri, tapi lebih dari itu: untuk khalayak, Masisir.




Ronny El Zahro
Kyai Khos Pesantren Afkar
PCINU Mesir 2008-2009



Soe Hok Gie-Centurygate, hanya Kesan Biasa


Soe Hok Gie-Centurygate, hanya Kesan Biasa

Tepat pukul 03.25 waktu Kairo, selesai aku membaca buku “Catatan Seorang Demonstran” punya Soe Hok Gie. Tak lebih, kata orang, dari sebuah catatan harian seorang mahasiswa, memang, tapi semangat-subtansi yang ingin dimunculkan begitu mulia: setia pada keadilan dan kebenaran. Pun sangat aktual isu yang didiskredikan dan, selalu, dilawan S. Hok gie: korupsi, politik praktis yang busuk, dan membangun generasi muda yang “tak cengeng”, dengan keadaan sekarang, ke kini-an tentang Indonesia. Bangsa Indonesia.

Meski demikian, saya berpendapat, masih banyak serpihan pemikiran-pemikiran cemerlang dan utuh Soe tak tampil-muncul di sini; Di buku Catatan Seorang Demonstran. Semerta potongan terlampau panjang pada buku itu, tahun 64-66, kalau diingat, tahun itu sangatlah penting dan, barangkali, erat kaitannya dengan proses perubahan-penggulingan Soekarno, Orde lama, ke Soeharto-Nasution dan Hamengkubuwono. Meski kalau melihat tahun terbitnya buku ini, kata ‘maklum’ akan terucap; tepat, sungguh, mewakili kondisi kala itu.

Dalam waktu terbilang lama, empat hari, saya menikmati catatan harian Soe hok gie; juga menonton kembali Film Soe Hok Gie, dan pengakuan sahabat-sahabatnya di kick andy, tak ketinggalan adik kandungnya. Di situ saya coba mengurai imaji-abstrak di buku, divisualisasikan dengan “film dan pengakuan-pengakuan” itu. Mulai perawakan-karakter sepintas Herman Lantang, Aris tides, badil dan, barangkali, Perempuan-perempuan yang deket dengan Gie; termasuk Maria. Dan bagaimana, komparasi, karakter Soe antara buku itu dan pengakuan temen sejawatnya. Nyaris sama, sempurna.

Soe Hok Gie saya cermati nyaris sempurna: orang yang punya konsep, semerta mengurai-mengaplikasikan konsepnya di dunia Nyata, sesuai dengan kondisi yang paling aktual. Di mana “pemikiran utuh begitu pun pergerakan mempunyai karakter”, sedikit insan manusia yang mempunyai karakter seperti ini. Lebih baik menyalakan Lilin satu dari pada mengutuk keadaan. Tapi Gie tidak: kedua-duanya. Mengutuk keadaan, semerta menyalakan lampu, bukan hanya lilin.


***
Semangat isi buku itu selalu aktual, seperti tertulis di atas: Korupsi, politik praktis yang busuk dan membangun generasi muda yang “tak cengeng”. Hal ini terlihat ‘suci’ kala diiringi kesetiaan sejauh-jauhnya pada kejujuran dan keadilan, dan itu sudah dilakukan Soe. Lebih baik diasingkan-dicaci dari pada setia pada kemunafikan, begitu katanya, Soe. Dalam tulisan lain: hanya ada dua pilihan dalam keadaan seperti ini, yaitu Idealis atau apatis. Rasanya aku memilih yang pertama.

Demonstrasi, akan selalu muncul dalam keadaan seperti itu: korupsi menjamur ke mana-mana dan “para politisi-nya serba busuk”, dan di sisi yang bersamaan rakyatnya menjerit ‘lapar’. Meski dengan motif dan bejibun kepentingan yang berbeda. Mulai dari angkatan ’66, peristiwa Malari, ‘tanjung priok’, reformasi ’98 dan, di era kekinian: kasus cicak vs buaya dan Centurygate. Semerta perubahan-transisi gerak mahasiswa Indonesia, berkembang dengan pola yang nyaris sama: dari Idealis menjadi oportunis. Sedikit sekali yang tetep teguh pada idealismenya. Baik itu angkatan ’66 atau pun ’98, sama. Selain di buku itu, banyak fakta-fakta yang begitu mengejutkan, Ilmuan yang sekarang dipuja-dielu-elukan tak lebih dahulu di dapat dengan proses ‘menjilat’. ‘Harian’ Ibukota yang masih eksis, juga demikian; sedang keukeuh dengan idealisme terpental lalu diberedel. Dan satu lagi: Revolusi-reformasi Indonesia tak lebih hanya berpindahnya kepentingan golongan satu ke yang lain. Sedang ‘lapar’-nya rakyat tak lebih alat instrumental saja. Hanya itu, tak lebih. Hal itu, barangkali, terjadi di “cicak vs buaya dan Centurydate”.

Kalau boleh saya membaca sejenak, akhir dari ‘centurygate’ akan ada ‘dagang sapi’ lagi. Entah itu di pansus atau di resaffle menteri nanti... , Susilo bambang Yudoyono yang kebetulan Presiden RI sekarang, beliau itu orang baik, tapi tragis dan sepi. Terlalu sering berkomentar dengan bahasa tubuh yang tergesa-gesa, tak jarang ada kesan marah-kesal, dan ini tak baik bagi beliau: kepala negara dan kepala pemerintahan, sungguh(?)

‘Dagang sapi’ secara politis, bisa dilihat, tak lebih karena ketidakpuasan atas ‘jatah’ partai koalisi. Partai apa itu, saya tak tahu. Sedang ‘centurygate’ alat instrumental untuk itu. Selain fakto adu kekuatan ‘spekulan’ besar untuk tetep mempertahankan bisnisnya, dengan membunuh musuhnya. Itu sudah terlihat. Dalam keadaan seperti ini, gerak langkah partai dengan karakternya masing-masing. Partai yang sudah puas dengan ‘jatahnya’ tentu tenang, meski sesekali cuap-cuap. PKS dan PPP contoh yang jelas kelihatannya. Sedang Golkar, PAN, dan PKB setidaknya getol untuk ‘merecoki’, menguak skandal century bahasa apik-halusnya; tentu dengan motif-kepentingan yang cenderung beragam. Hal ini begitu cantik dimanfaatkan, sebagai Instrumen, oleh PDI Perjuangan-Hanura dan Gerindra untuk menaikkan citra partainya. Melakukan fungsi kontrol katanya. Begitukah lugunya, saya tak tahu?

Namun, kalau boleh berharap-mempunyai ingin kuat: semoga skandal century, centurygate bahasa ‘ngerinya’, semoga berakhir dengan baik. Transparan, tanggung jawab, fair dan cepat itu bukan hanya ‘slogan lipstik’; barangkali, tanpa tendensi kepentingan busuk itu tereliminir dengan sadar. Dan terpenting, aliran dananya jelas dan tabungan nasabah kembali dengan sebagaimana adanya. Itu saja, mungkinkah(?)

Dan pesanku untuk oknum, partai dan golongan yang terlibat di skandal century, selain harus melalui hukum positif yang berlaku: pertama, oknum siapapun yang terlibat, silakan lenyap di dunia publik. Tak perlu “renge’an” anda muncul di publik lagi dan jalani hukuman dengan baik, agar Indonesia bisa tersenyum. Kedua, kepada Partai politik —apapun partainya, baik itu partai pemerintah, oposisi, bahkan partai Islam tulen sekalipun—silakan bubarkan saja partai itu, membubarkan diri itu lebih baik. Tak perlu ada partai yang tega merampok uang rakyat, selain visi-misi pendirian partai politik itu sudah tercederai. Sungguh? Ketiga, golongan: silakan hidup damai di bumi butera Indonesia, tapi silakan bubarkan saja golongan itu. Termasuk Ormas, sayap kanan-kiri partai, Yayasan-yayasan tak bernilai sosial itu dan lain seterusnya. Kemudian, silakan Indonesia melaju bak ‘burung burok’: cepat dan terarah. Sedang, kita, generasi muda, tak perlu cengeng.

***
Kembali ke Soe Hok Gie, semangat-spirit yang ada pada diri Gie: jujur pada keadilan dan kebenaran dengan lurus dan sejauh-jauhnya akan selalu dirindukan khalayak; selain yang punya seperti itu sedikit, nyaris tak ada. Di samping itu, perawakan-karakter seperti Gie, saya bayangkan, sangat kesepian dan, sungguh, capek. Sungguh, patut, kasihan. Kendati demikian itulah perjuangan, dan selalu dicari.

Benar Gie bukan malaikat, suci. Tapi totalitas dan kesadaran setia pada keadilan dan kebenaran itu, sungguh, patut diapresiasi. Pertanyaan terlintas: berapa banyak Mahasiswa, politisi, intelektual dan Ulama yang memiliki spirit layaknya Soe hok gie? Jawaban spontan muncul: Ulama meniru Nabi Saw, Isa As dan Musa As. Lalu bukanya Nabi Saw, Isa As. dan Musa As. Itu pun totalitas dan penuh kesadaran setia kebenaran dan keadilan? Berapa banyak ‘mahasiswa salon’, Politisi busuk, dan pelacur Intelektual itu? Lebih dominan mana dengan Politisi-intelektual-mahasiswa Idealis? Tak perlu dijawab, tapi butuh dibuktikan.








Monday, October 26, 2009

Netralitas yang Terluka


Netralitas yang Terluka


Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan unik di sebuah media lokal Masisir (red: Terobosan, edisi interaktif, 26/08/09) dari salah satu senior Masisir: Iswan Kurnia Hasan—saya tulis ‘senior’ karena fakta objektif beliau sudah lama di sini, Kairo—dengan judul: Atas Nama Masisir.

Hemat penulis, tulisan itu menjadi titik kulminasi dari apa yang sering disebut ‘proses identifikasi’, dan lalu keharusan bersikap seorang politisi terhadap publik atau bahkan rival politiknya. Namun yang menarik, hal itu ditempuh dengan menampakkan ‘sesuatu yang tak tampak’ menjadi ‘tampak’. Saya sebut dengan ‘sesuatu yang tak tampak’ karena identifikasi tersebut berpijakpada gosip yang tak berujung asal; dengan sekarut-marut friksi yang mengitari. Tapi barangkali naluri seorang politisi akan mampu merasakan, atau boleh jadi sudah umum sebagai intuisi politik.

Melihat media massa lokal dan bahkan milis yang “rajin” menyoroti PKS, memberi satu titik simpul pada seorang Iswan: PKS itu ‘seksi’. Meskipun pada saat yang sama kritisisme terhadap media telah tercampakkan sedemikian rupa. Maka dengan polosnya ia menuliskan, ‘akhirnya PKS menjadi issue maker yang paling ampuh di Masisir’.

Di dalam tulisan ini, saya tidak ingin luruh dalam dilema pro-kontra opini politisi tersebut, tapi sebatas memakainya untuk pintu gerbang guna menguraikan hal lain sekiranya lebih perlu; tentu tak lebih dari subjektivitas penulis.


PPMI dalam Dilema Berat

Berawal dari pertanyaan: bagaimana dinamika Masisir, khususnya dalam wahana intelektual-akademis? Sebagian Masisir hampir sepakat menjawab ‘lesu’. Dan bahkan, mengalami ‘krisis’; meski secara matematis prestasi akademis terbilang naik. Lalu dilanjutkan dengan pertanyaan, bagaimana kondisi lalu lintas organisasi di Masisir? Bermacam jawaban terucap: ‘semrawut’, ‘tenang’, bahkan ada yang nyletuk: ‘sekarat’.

‘Lesu’, kata itu, mungkin, lebih mengacu pada budaya intelektual-akademis yang ironis. Banyak faktor yang bersinggung dan pastinya mempengaruhi kelesuan budaya ini. Semisal: pengaruh dunia maya, internet, dan, barangkali, program kerja Organisasi yang tidak inovatif-kreatif untuk membuat ‘greget’. Sehingga Masisir, secara massif-sadar, emoh berpartisipasi dengan program kerja yang tak greget dan kurang menyentuh khalayak itu. Akhirnya terjadi apa yang kemudian biasa terucap dengan kata ‘krisis’.

Pasalnya, hampir semua program kerja Organisasi di Masisir ini bisa ditebak: terlalu tambun diperuntukkan bagi Mahasiswa Baru (MABA). Akan tetapi pada saat yang sama keberangkatan Maba tak bisa ditetap-pastikan: selalu terlambat datang! Ini menjadi dilema tersendiri, bahkan akut. Tentu masih bejibun problema-friksi yang tak mungkin semua ditulis di sini. Namun setidaknya sudah mewakili, meski masih parsial dan hanya yang ‘tampak’ saja.

Dalam masa yang seperti ini, tentu PPMI sebagai organisasi Induk sedang menghadapi situasi yang tak nyaman dan dituntut untuk ‘tidak tenang’. Alias sesegera mungkin bergerak, bergerak ke depan! Sangat dibutuhkan inovasi-kreatif yang lebih baru, sebagai langkah awal, untuk menampung inklinasi dari Masyarakat yang kita sebut Masisir. Tak cukup menampung saja, tapi bisa menjadi ‘pengerahan tenaga-pikiran bersama’ dengan “melepaskan diri dari ‘ego’ masing-masing” guna mensukseskan apa yang telah disepakati.

Tentu tak mudah. Apalagi saat didaulatnya Presiden dan Wakil presiden 2009-2010 menyisakan tanda tanya dalam pikiran Masisir. Dan pada saat yang bersamaan pula, kala pelantikan berlangsung, terjadi insiden yang sedemikian ‘langka’ di dalam dinamika Masisir: anggota sidang Umum I ricuh meski hanya melalui ‘teriakan-teriakan’. Di samping itu, melihat masa jabatan yang sangat sebentar, satu tahun, dengan disertai bejibun program dan ritualitas kinerja yang harus terealisasi. Wajar jika saya tulis, PPMI dalam dilema berat.

Maka sangat dibutuhkan langkah konkrit kinerja semua elemen PPMI dari hulu sampai hilir sesuai sifat dan tujuan yang telah disepakati dalam AD-ART PPMI Mesir: PPMI Mesir bersifat Independen, akademis, demokratis dan kekeluargaan; membentuk mahasiswa yang bertakwa kepada Allah SWT dan memiliki kepribadian yang luhur, pengetahuan dalam, wawasan luas, kemampuan handal semerta kepedulian sosial yang tinggi. Hal ini diterjemahkan lewat program kerja, terlebih dahulu hendaknya, melalui kajian yang mendalam dan riset yang memadai. Jika memang program tersebut cocok untuk iklim Masisir, silakan terus. Akan tetapi jika perlu perubahan, sesegeralah berubah haluan menuju yang lebih progresif. Semerta itu hendaknya diracik dengan apik-cantik untuk disosialisasikan kepada khalayak secara merata; tentu bukan dengan pola sosialisasi satu arah, tapi lebih pada komunikasi aktif dua arah dalam porsi yang setara.


Peran Media dan Komunikasi Massa

Signifikansi peran media dalam memberi kesadaran publik atas opini, berita dan wacana kekinian, hendaknya dipahami secara baik. Berikut obyektivitas dan netralitas media terkait wacana-wacana yang dilontarkan. Maka mendramatisir, atau bahkan mempolitisir polemik media massa sebagai bukti ‘keterpesonaan’ publik pada PKS sangatlah tidak santun (baca: issue maker), sekaligus merupakan bacaan yang distorsif.

Maka dalam menyikapi polemik media massa, ataupun dinamika realitas harus netral dan independen. Dalam artian, menghindari reduktifikasi-reduktifikasi yang mungkin muncul dari subyektivitas atau bahkan dorongan kepentingan tertentu atas pokok masalah yang ada.

Keberpihakan media tertentu pada satu hal: khalayak. Ia netral, sekaligus independen. Selebihnya, melanggar kode etik. Dengan begini, wajar jika ada kalangan berpendapat bahwa media massa sebagai salah satu pilar tegaknya demokrasi. Dengan diikat melalui etika yang sebegitu, maka media sangat membantu berjalan lebih cepat: apa yang telah diprogramkan dari Organisasi di Masisir ini bisa ‘sukses’ dan sempurna sesuai rencana. Mulai dari media Senat dan Kekeluargaan, sebagai misal, sampai Suara PPMI. Sebagai perimbangan tentu Makar, Terobosan, dan Infomatika memiliki peran vital.

Semoga tak ketinggalan, sesuatu yang tak kalah penting, Komunikasi Massa. Hal di atas bisa diterima kala dikomunikasikan dengan baik. Dengan performa komunikasi yang tentu harus baik pula.

Dalam ranah bahasa, sederhananya terdapat dua catatan penting: santun dan benar. Dikatakan ‘benar’, jika ada informasi sebuah berita, misalnya, ‘kematian-kelulusan’; tak boleh dengan penyampaian ‘sakit-masih menggantung’. Berita sebanyak lima kalimat tak bisa direduksi menjadi dua saja, apalagi menjadi ‘provokasi’. Dan itu hendaknya disampikan dengan ‘santun’. Sebuah kekeliruan, atau perilaku kejahatan, yang terbingkis dalam bahasa santun sangat mungkin akan menjadi racun. Sedang hal benar kala tak santun dalam pola komunikasinya, akan merongrong validitas dan kepercayaan: percaya bahwa itu benar. Maka, ‘baik’ itu harus meliputi: benar dan santun.

Pun ketepatan komunikasi. Kapan berbicara teknis-terperinci, ada saatnya konsepsi. Bagaimana ber-komunikasi dengan diplomat, tentu berbeda pola komunikasi dengan rekan sejawat. Dengan diplomat sangat butuh ‘selingkuh bahasa’ dan, banyak, menyaburkan, tapi memahamkan kedua belah pihak. Sedang teman sejawat, lebih rileks dan tak naik pitam meski cerewet. Pun dengan politisi, pola komunikasi pasti berbeda.

Politisi adalah penggerak Partai Politik. Apapun partai politik itu, penggeraknya: politisi. Maka sedikit mengingatkan: jangan meleset dalam melihat partai politik, tak terkecuali partai berideologi Islam. Tak boleh kita mengimani itu. Begitu pun kepada setiap politisi: sebagai politisi mereka punya target-target politik; mereka punya partai, mereka tak ingin partainya mengecil, tentu ingin semakin tambun-membesar. Di saat yang bersamaan, aura gerakan parpol di Indonesia paham betul kehendak masyarakat Indonesia, mirip penonton film-film hollywod: filmnya happy ending, aktor utamanya menang dan yang lain entah ke mana. Itulah yang tersirat dari tulisan senior Iswan Kurnia, setidaknya dalam paragraf terakhir dengan sangat piawai meracik komunikasi massa yang runtut dan sistematis; meski pengakuannya, itu belum ketemu jawabannya. Aneh (?)

Sebelum titik perpisahan sedikit saya hendak menuliskan: semua manusia punya latar belakang masing-masing, dan berbeda pada akhirnya. Tapi bukan berarti menjadi sebuah keharusan untuk pecah, rapuh, atau pun membangkang. Malah sangat bisa menjadi kekuatan, baik itu yang bersifat transidental maupun yang lain, Imanen. Memulai dengan paradigma: heterogen itu kekuatan, tentu berpijak-bijak pada ‘pengerahan tenaga-pikiran bersama yang bulat’ dengan ”melepaskan diri dari pertengkaran-pertengkaran” tanpa melakukan simplifikasi-simplifikasi yang prinsipil. Indonesia bersatu dengan bejibun perbedaan, apalagi hanya seklumit potret dari Masisir.[]


Ronny El Zahro
Mahasiswa fak. Usuluddin Al Azhar
Baru Tingkat II
NB: Tulisan ini dimuat di Buletin LOkal Masisir: Terobosan

Friday, August 14, 2009

Friksi Pemiluwa PPMI Mesir


Aku (Ikut) Bersua;
Friksi (di Waktu) Rekap Suara Pilpres PPMI Mesir
I

Semalem, sekitar Pukul 21.00 waktu kairo, saya (Ronny El Zahro) dengan “dua temen cewek”yang dari Ghamra kemudian menuju Wisma Nusantara; setelah mengantar dua temen cewek itu ke tempat tujuan mereka, satu turun di Sabi’ dan, satunya lagi, di salah satu Sekretariat kekeluargaan.



Sampai di Wisma sekitar pukul 23.00 waktu Kairo sampai di Wisma Nusantara. Bertemu-sapa dengan para rekan, baik yang aku kenal, pernah ‘lihat wajah’ sampai “tak kenal sama sekali”—apalagi melihat, sungguh. Kawan Nadief S—pembedah buku novel Arif Riyadi, di aula Griya jawa tengah—, rekan pertama yang aku salami, jabat tangan, semerta aku bertanya kepada Mas Nadief: Bagaimana jalannya penghitungan “Suara”?(karena, sependek pengetahuan- ingatan aku, harusnya sudah dimulai). Wah belum dimulai. Nih masih sepi, tak tahu kenapa, begitu dia menjawab.



Sesaat kemudian, saya beranjak ke Atas, menuju café Oregano; café dengan suasana nyaman dan sejuk, padahal di sutuh Imarah; sungguh unik peng-Ide-nya. Di sana bertemu rekan-rekan. Jam berapa pen-coblos-an(bukan pencontrengan) ditutup? Dan kenapa kok sampai sekarang belum dimulai penghitungan suara?, seketika itu aku bertanya ke temen-temen yang ada di sana. Pen-“Coblos”-an ditutup pukul 20.00 dan ndak tahu kok belum ada penghitungan “Suara”, tapi Panitia PPSU sedang rapat, g tahu rapat apa, begitu jawab rekanku dengan “Fasih”. Owh …, begitu responku.



Setelah rekan-rekan menikmati Petikan Gitar dan Lagu-lagu indah-romantis, maka, dan, setelah Agus Chudlori(Penjaga Café) selesai menulis semerta rekan Tobroni(ketua MPA 2008) membayar tulisan di kertas Mas Agus, kita turun dari Sutuh untuk melihat: penghitungan suara udah dimulai apa belum. Belum ternyata, meski sudah pukul 24.30 waktu kairo.



Aku menuju ke dalam Aula Wisma, semerta bersalaman dengan Fuad yang beralmamater Misykati, ‘mantan’ Pimpinan MPA 2008-2009 M., kenapa kok belum dimulai?(penghitung an Suara), tanyaku pada dia. SC, OC, KKP dan, bersama, Tim Sukses lagi rapat, begitu jawab rekan Fuad. Hah ….,masih “masih rapat”(?) jam Segini(24.30) . Berlanjut dengan beberapa pertanyaan: selesai jam berapa(penghitungan Suara), mang Problemnya akut tooo??(kok sampe rapat lama sekali(?)), perihal Pamlet “Capres-cawapres” yang menunjukkan kontak person PPSU 2009 tapi tak ada kontak person “Timses”—hanya ada alamat GMail dan wordpress—, dan nikmatnya diskusi berkait edisi interaktif Informatika serta lain-lain.





II

Selang Banyak menit— se-ingat-ku setelah 45 menit— rapat disudahi. Aku lega, penantian indah-busukku selesai. Friksi pun selesai, aku kira. Tidak, ternyata.



Mereka yang rapat lama tadi, ternyata tidak mempunyai kata sepakat. Apalagi mufakat. Karena kala penghitungan suara, Tim Sukses salah satu calon Hak-nya belum terpenuhi. Sekali lagi Hak, bukan kewajiban; apalagi Dosa. Aku Tanya apa itu: Daftar pemilih tetap(DPT) dan Rekapitulasi Pemilih; yang menurut Hemat saya, itu bisa diberikan-diketahui oleh semua Orang(Masisir) , apalagi Tim Sukses, sungguh. Dan itu tidak diberikan Panitia dengan dalih tentu bermacam-macam; tapi saya berdoa: semoga alasan yang diberikan (Panitia) masuk akal dan “tidak memangkas” Hak Kandidat dan warga Masisir, “meski aku tak tahu alasan pastinya” (semoga PPSU berani menulis dan mempublikasikan kepada khalayak, barangkali?)

Dengan mengingat lagi, melihat kembali Today’s dialogue(dialog (Politik) di Metro Tv), saya berkesimpulan: DPT, seperti yang saya tulis di Atas, itu adalah Hak setiap Warga Masisir, apalagi Kandidat untuk mengetahui; bahkan (harus) dikasih. Tak perlu meminta. Maka wajar jika kubu yang tidak diberikan Hak-nya mengadakan Aksi Protes—kemarin tidak ada perkelahian saja, saya sudah bersyukur banget, sungguh!!!



Dari Fakta-fakta yang saya temukan di lapangan, semerta mencoba berani untuk selalu mengambil konklusi, maka, meski saya bukan Tim Sukses-bukan Kandidat, maka saya ikut mereka yang Walk out beserta menyisakan pertanyaan di jiwa yang me-merah: apa sih susahnya memberikan itu (permintaan dari Tim Sukses)? Bukankah itu justru, jika diberikan, akan memberikan kredit poin yang bagus bagi Panitia PPSU 2009 sendiri. Karena akan ada Transparansi, saling percaya dan, meminjam Istilah I Gede Putu Artha, tidak ada dusta di antara kita. Sungguh?



Maka, berdasar dari fakta yang saya temui (semoga jika ada kekurangan bisa saling mengisi), suatu “kewajaran yang logis” jika ada (banyak) orang berasumsi: PPSU 2009 kurang terbuka. Tapi lepas dari itu, saya berharap, yang terjadi itu bukan yang diasumsikan tapi hanya kurang komunikatif antara Panitia dan “Pihak yang terugi”, semoga. Meski ini kecil kemungkinannya, karena tak mungkin se-Re-aktif itu jika hanya bersoal pada komunikasi, barangkali? Itu realita-logika yang saya simpulkan.



Aku pun pulang. Dengan sadar aku pulang, sungguh. Meski saya tidak akan mendapat “keuntungan materi” ketika saya menginjakkan kaki, dari pintu gerbang Wisma menuju Rumahku. Tapi tanggung jawab. Tanggung jawab karena saya telah melihat-mencari fakta-fakta dan saya telah menyimpulkan, maka saya harus melakukan konklusi itu; pulang. Meski, barangkali, akan banyak orang mengira saya termasuk kubu salah satu Tim-kandidat. Silahkan saja. Aku pulang dengan menggunakan taksi, bersama rekan Faizin(orang ganteng yang berambut Gondrong itu, juga pegiat Rumah Budaya Akar) dan Mas Mumu(salah satu pemain Biola di cafe Oregano kemarin malam), dan rekan Faizin yang membayar taksi, 10 Le kalau tidak salah.





III

Kalau saya boleh berharap: semoga kubu yang “terugi” menggunakan jalur birokratis-struktur al jika ada sengketa. Hal ini penting, mengingat pembelajaran Demokrasi harus selalu “berjalan menuju depan”, bukan sebaliknya. Maka konseskuensi logis, jika penanganan friksi ini hendaknya konstitusional. Sungguh, sebisa-mungkin konstitusional. Selain Tim Sukses-Kandidat terugi, tentu harus juga didukung pihak-pihak terkait yang mengitari konstitusi itu; KKP...., KKP..., KKP..., PPSU 2009..., Panitia PPSU 2009..., dan pihak-pihak (Non)Institusional.



Kalau boleh saya Berharap: KKP, semoga kepanjangannya masih: KOMISI KEHORMATAN PEMILU, Semoga masih itu, bukan yang lain, bekerja dengan Netral dan menindaklanjuti beberapa hal yang ter-membuat Friksi di Pemilu kali ini. Baik itu berbentuk kecurangan, kesengajaan dalam pemangkasan Hak, atau penggelembungan dengan berbagai Modus yang tentu tidak bisa di Tolerir. Yang saya maksud dengan terma Netral: bukan secara tidak sadar mendukung PPSU apalagi Kandidat, apalagi dilakukan dengan Sadar(berat sebelah). Tentu KKP juga hendaknya mengidentifikasi beberapa Friksi, bukan hanya “Tukang Pos” yang menerima Laporan, kemudian menyampaikan( laporan). Bahkan, jika serius ditemukan Bukti kecurangan, harus berani mengamputasi pihak yang mencurangi, meskipun kandidat yang Menang. Ya.., meski dia menang telak. Bahkan jika KKP berat sebelah, berani bertanggung jawab, semoga?



Kalau saya Boleh berharap: Panitia PPSU 2009 (harus) Transparan dan Objektif dalam mengambil sikap; apalagi keputusan. Itu harga Mati. Selain itu, juga harus ‘Konsisten’ kepada, “meski agak Mewah”, Kebenaran. Juga, bukan Tukang Pos, tapi lebih kepada Eksekutor yang sigap dan responsif terhadap hal-hal yang berkait dengan Pemilu ini kali; misal, berkait friksi kemarin. Kemudian, “langkah Legowo(dalam bahasa Indonesianya: lapang dada dan menerima kenyataan)” jika memang dalam beberapa sikap dan langkah Panitia PPSU 2009 ada sesuatu yang “janggal”, kemudian dinyatakan “salah”. Baik itu sedikit sikap(meski satu) maupun banyak Sikap-keputusan, Seketika itu, hendaknya, tak hanya Maaf tapi juga solusi yang bersifat Organisasi juga harus dikedepankan. Kalau bersifat Indvidu: tanpa meminta maaf pun sudah dimaafkan. Tapi secara Institusi-organisas i kepanitiaan itu lain, harus ada komunikasi aktif dua arah, serta penyelesaiannya pun juga (harus) bersifat konstitusional.



Kalau saya boleh berharap: kepada Kandidat, jika dikemudian hari(atau sekarang ini), terbukti anda mempunyai Friksi, atau ada Silap-salah antara kata-perbuatan- dan tindakan ketika kampanye dan realita kala memimpin, maka, secara Etika Politik(apalagi hukum normatif UUD PPMI), semoga mau mengundurkan diri Jabatan Presiden-wakil presiden PPMI dengan suka rela; tanpa harus “didongkel” Rakyat. Dan meminta maaf kepada Masisir. Semisal, Rizki (cawapres Rashid) yang dikuyo-kuyo sehingga menjadi bulan-bulanan di milis ini dalam beberapa waktu lamanya berkait status dia, TKI (untung tak ada yang salah nulis TKW) atau Mahasiswa, dan sekarang terbukti dia adalah mahasiswa dan masih ter-anggota di PPMI; bukan yang selama ini tertuduh kepada beliau. Begitu juga Syadid(cawapres Taufik) atau Taufik sendiri: berkait Problema Status kader partai; dan secara lugas diakui bahwa mereka bukan kader Partai—apapun partai politiknya: entah itu Partai Golkar, PDI Perjuangan, PKS, PKNU atau pun partai-partai Gurem. Jika terbukti sebaliknya, apalagi , barangkali, Utusan dari Indonesia, saya berharap: bersedia seperti yang saya Harap, mengundurkan diri dengan Suka-rela. Kalau tidak nanti, sekarang lebih baik, jika-mungkin. Dan pihak yang sebelumnya mendukung pun (hendaknya) legawa atas keputusan itu, semoga?



Kalau boleh saya berharap: Untuk PPMI ke depan, penguatan hal yang bersifat akademis intelektual, kajian reguler sebagai misal, harus tetep ditumbuh-kembangkan ; apalagi kampus al Qur’an. Lalu kenduri Kebersamaan yang bersifat plural dan untuk semua Golongan pun harus tetep ada. Kita sudah ada lomba Nasyid, baik lagi jika PPMI adakan Lomba Band. Pengkajian berkait Politik-keislaman kontemporer sudah, seketika lebih baik jika disertai “Rancang pikir” pengkajian lebih dalam tentang Turats yang kita(harus) jadikan ‘Pondasi’, dan relevansinya terhadap situasi Zaman. Ini penting: agar kita berjalan (tahu betul bahwa) di “atas tanah” dan mengerti “Langit-Matahari” itu ada di mana. Semerta program-program Pro-Masisir lain yang harus dilestarikan; Klinik Masisir dan cangkir wisma misalnya.





IV

Terakhir, tulisan saya ini saya tutup dengan memperkenalkan identitas diri saya. Bukan karena saya ingin Narsis, tapi karena saya sudah lama tidak ikut aktif di milis ini. Jadi takut banyak yang sudah lupa. Berikut identitas saya:



Nama lengkap saya : Ronny Giat Brahmanto;

Nama pena : Ronny El Zahro;

Terdaftar di Universitas al Azhar Kairo, Fakultas Usuluddin;

Roqm gulus saya : 13733;

No. HP/Rumah : +20107934068/ 24101509

Kekeluargaan : KSW;

No pasport : B 392696;

No pendidikan : 8476;

Visa berakhir : 28 November 2009;

Almt. Rumah : Bld. 389, No. 07, St. Ahmad Zumar mahathah Akhir madrasah Nasr City Cairo Egypt;

Dan, terakhir, No. Reg. Di PMIK: 1961.

Monday, June 29, 2009

Diskusi Awal lakpesdam Seusai Term II


Lakpesdam ‘Mejeng’ ke Hadiqoh?


Lakpesdam, kemarin sabtu, 27 Juni 2009, terlihat (tampil)beda. Pasalnya, biasa terlihat serius, “wajah cemberut” dan pola pakaian biasa di saat diskusi, tapi kali ini lain: ada yang bawa Kaca mata Hitam, kamera, pakaian Necis, dan ketinggalan Bau parfum yang, barangkali, sedikit ‘menyengat’.

Pertemuan pertama diskusi dengan tema : ”Membedah Ayat-ayat Misoginis, Qosim Amin Sebagai misal”, dan rekanita Bangun Pritiwati Zahro sebagai presentator. Menurut rekan Irwan Masduqi(Koordinator Lakpesdam 2008-2010), sengaja memilih tempat di Luar Sekretariat, di Hadiqoh Al Azhar, karena biar ada suasana fresh seusai Ujian term II; dan ini awal kali Lakpesdam diskusi di Luar Sekretariat.

Pukul 15.00, 6(enam) rekan Lakpesdam keluar dari sekratariat NU untuk langsung menuju hadiqoh Azhar, setelah sebelumnya ‘menggandakan’ makalah dan membeli ‘bekal’ dari Mini Market. Sedang rekan lain sudah ada yang telah di sana sebelumnya; karena tinggal di daerah Buuts dan Husein, lebih dekat dari lokasi; Hadiqoh Azhar. Dalam kesempatan ini, Lakpesdam juga mendapat kehormatan atas berkenan hadir: rekan baru, rekan Fahmi Farid Purnama dan senior lakpesdam bersama Istri; Kyai Ahmad Gynandjar Sya’ban dan Ning Lulu mardhiyah.

Diskusi dimulai Pukul 17.00 Waktu kairo, setelah semua Kumpul. Kali ini, Ahmad Subkhi dipercaya sebagai Moderator, pemandu diskusi dari awal sampai Akhir.

Qosim Amin, menurut saudara Subkhi ketika membuka diskusi, untuk kontek sekarang, barangkali, biasa-biasa saja. Tapi, pada masanya dia menjadi Orang yang berani mendobrak sekat-sekat tradisi pirmodialisme yang membelenggu-membodohkan, khususnya bagi kaum perempuan. Bahkan dua bukunya itu, Tahrirul Mar`ah dan Mar`ah Jadîdah, salah satu bagian dari buku yang paling kontroversial di Arab; mesir pada Umumnya. Tanpa memperpanjang kalam, dia mempersilakan rekanita bangun pristiwati Zahro untuk mengelabolari lebih jauh berkait Isue-isue gender, kang Qosim sebagai misal.

Banyak perempuan Arab baiknya berterima kasih kepada Qosim Amin karena, papar Bangun, atas jasa dan perjuangan dia banyak kaum hawa bisa bersekolah-mengenyam pendidikan dengan merata-memadai, tidak ditalak dan di Poligami suami dengan semena-mena dan menjamin proses keberlanjutan generasi suatu bangsa adalah salah satu bagian yang (telah-harus) diperjuangkan. Layak predikat Bapak feminis Arab melekat padanya.

Kemudian, lanjut rekanita Bangun, mengupas dari berbagai aspek: Biografi, metode penelitian, dan aspek-aspek lain yang menjadi obyek kajian Qosim Amin. Ia lahir dari keluarga yang terbilang mampu. Setelah lulus dari Universitas di jurusan Hukum, Qosim Amin mendapat Bea siswa untuk melanjutkan sekolah ke Perancis. Di saat dewasa ia bertemu dan menimba Ilmu bareng dengan beberapa reformis Arab salah satunya: Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani.

Dari aspek metode, Qosim amin lebih dekat dengan pendekatan sosiologis. Ini diperkuat dikala respon dia terhadap salah satu buku tokoh Orientalis, Duc D'harcouri, yang menghujat Islam dan Arab secara tradisi: penelitian itu harus terjung langsung ke lapangan, bukan di “atas meja”, agar peneliti tahu betul Objek dan tak ada jarak dengan Objek, hasilnya pun bisa mendekati Objektif. Barangkali? Begitu juga dikala mengkaji perempuan, Qosim Amin, juga mengadakan Survey langsung ke ‘lapangan’, di samping tak mengabaikan study literature; dengan harapan penelitiannya seimbang, tak bias.

Seusai semua rekan Lakpesdam memaparkan ide dan hasil olah bacanya, diskusi selesai sedikit setelah adzan maghrib, Senior Ahmad Gynandjar Sya’ban (masyhur dengan sapaan kyai Atjeng) sebagai pamungkas.

Ndadak Model

Setelah diskusi, ada beberapa rekan yang pulang; terutama yang tinggal di Buuts, bagi yang perempuan. Sedang senior Atjeng dan Istri ada urusan lain. Sisanya, masih tinggal dan menikmati indah-nyaman-sejuknya Hadiqoh Azhar.

Akhirnya ‘beraksi’, teriak rekan Subhan setelah Usai diskusi. Dia langsung meminta rekan lain untuk memotret dia dengan gaya Khas dia. Aksi ini juga diikuti rekan lain, sambil mencari-cari angle yang pas untuk dijadikan bacakround. Mulai dari ujung-puncak taman dengan pemandangan kota kairo jadi Backround, tembok dengan ukiran-pola letak yang indah, dan sampai beberapa relif yang mengandung nilai sejarah.

Dalam acara potret-memotret, ada beberapa hal lucu, aneh dan ‘Gokil’. Juga didukung dengan tak ada kaum hawa yang tersisa sehingga ‘aksi’ rekan-rekan “Los”, tanpa ada beban. Seperti, di puncak, rekan-rekan memperagakan beberapa “tari” beberapa aliran. Berpose bersama dan sendirian, dengan gaya aktraktif —bahkan beberapa kali di usir petugas keamanan— sesuai keinginan masing-masing, alias berpose tanpa ada yang mengatur-memberi arahan.






Bapak Feminis


Qosim Amin,
Tema Diskusi Lakpesdam Seusai (Ujian) Term II



Isue gender merupakan topik yang selalu hangat dan tak habis jika dibahas. Terasa melelahkan tapi juga mengasyikkan; lelah karena tak ada titik akhir untuk mencapai, asyik: kita akan terberi nuansa dan wacana yang dinamis dengan disuguhkan “jargon-jargon” yang selalu bermunculan dan tak akan pernah habis dibahas-digali, sehingga tak terasa letih.

Di Indonesia, kita dengar nama: RA. Kartini, Dewi Sartika, Ratna Megawangi dan, barangkali, Gadis Arivia, bahkan tak ketinggalan mantan first lady Indonesia, Ibu Sinta Nuryah Abdurahman Wahid(Istri Gus Dur) berada di Garda depan untuk memperjuangkan nasib-hak para perempuan di Indonesia. Negeri Tercinta. Sedang di Dunia Arab sendiri, khususnya Mesir, tak asing kita mendengar nama: Huda Sya’rawî, Zaenab Fawwaz, May Ziyadah, Aisya Taimoriyah, dan Aisya Bintu Syati’; mereka adalah sedikit dari banyak Tokoh yang konsen dalam relasi gender dan feminisme di mana masalah ini menjadi Problem sentral(al-Isykaliyât al-Markaziyah) dari pergolakan pemikiran di Mesir. Namun jika dirunut ke belakang, di akhir abad 20 M, justru Qosim Amin-lah yang berada di Garda depan untuk pembebasan dan pemberdayaan kaum perempuan pada masa itu. Layak kiranya predika Bapak Feminis Arab melekat padanya.

Karena atas jasa Qosim amin, banyak perempuan di Dunia Muslim dan Negara-negara dunia ketiga, khususnya Mesir, bisa menghirup udara bebas, mengenyam pendidikan dengan layak dan memadai dan Harkat-martabat perempuan lebih bisa diterima, khususnya di depan laki-laki dan pada khalayak publik. Dengan mengguna analisa sosial-historis dan dikomparasikan dengan “kritik teks” Lek Qosim berhasil membedah “sekat-sekat primordial tradisi” yang membelenggu, tak jarang membodohkan, kepada kaum hawa untuk dipahami secara adil dan lebih maslahat kepada khalayak banyak.

Kemarin, Sabtu 27 Juni 2009 Lakpesdam mengawali diskusi seusai Ujian Term II dengan Membedah Ayat-ayat Misoginis, Qosim Amin sebagai Misal dan rekanita Bangun Pristiwati Zahro mendapat amanah sebagai presentator. Diskusi lain dari biasa, menurut rekan Irwan, Koordinator Lakpesdam,” kita sengaja diskusi di Luar, di Hadiqoh Azhar, biar ada suasana fresh, di samping serius dalam diskusi tapi bisa ‘menghirup nafas’ liburan dengan nyaman-tenteram”.

Jarum jam berada di titik 17.00 waktu kairo. Rekan-rekan lakpesdam terlihat sudah memenuhi kuota diskusi, dan kala itu pula-lah diskusi dimulai; Saudara Ahmad Subkhi dipercaya memandu acara, alias menjadi moderator. Kebetulan, ini kali, lakpesdam mendapat kehormatan dengan bergabungnya Senior lakpesdam bersama Istri: Ahmad Gynandjar Sya’ban dan Lulu Mardhiyyah dan rekan baru, Fahmi Farid Purnama.



Jejak Langkah dan Sepak Terjang “Sang (Bapak) Ferminis”

Kang Qosim lahir di desa terpencil di daerah Mesir dari Ayah keturunan Turki Utsmani dan ibu berdarah Asli Mesir. Lahir di awal bulan Desember pada tahun 1863 M, ungkap bangun ketika mengawali presentasi.

Di Madrasah Al-Tin di daerah Alexandria, lek Qosim mulai belajar hingga di tahun 1881 M. ia meraih gelar licance dari Fakultas Hukum dan administrasi dari sebuah akademi. Kemudian pada tahun yang sama ia juga berhasil bekerja pada Mustafa Fahmi Basya, seorang pengacara, yang kebetulan mempunyai hubungan baik dengan Ayah Qosim. Melalui perantara Kantornya, mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Perancis atas sponsor dari Musthafa Fahmi Basya itu. Di perancis, ia bertemu para reformis Arab, salah satunya: Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Juga layaknya mahasiswa, dia mempunyai “teman perempuan Istimewa” yang jelita-cantik asal Perancis, Salafa namanya, yang ketemu awal di perpustakaan Universitas, dan dari dia disinyalir Qosim sadar bahwa ada yang tak beres pola hidup dan memperlakukan perempuan di tanah kelahirannya, Mesir.

Sekembalinya dari perancis, 1885, ia menjadi Hakim. Kariernya semakin meningkat hingga tahun 1889 lek Qosim diangkat menjadi wali kota bani Suef di salah satu daerah propinsi di Mesir. Dari sinilah, terbuka lebar untuk menjalankan misi-misi mulianya guna memperbaiki “lalu lintas” masyarakat di segala bidang(ishlâh ijtimâ'î).

Ditahun 1894, ketika usianya menginjak 31 tahun, lek Qosim menikah dengan gadis pilihannya sendiri, Zaenab Amin taufik namanya, Gadis jelia kebangsaan Turki anak dari teman dekat ayahnya. Ditahun yang sama lek Qosim mulai aktif menulis, dan menerbitkan karya pertamanya: Al Misyrisriyyûn (Le Egyptiens) sebuah buku yang meng-counter salah satu kajian orientalis asal perancis, Duc D'harcouri, yang menghujat sosio-kultural Mesir pada masa itu. Kemudian ditahun 1899 ia menerbitkan buku Tahrirul mar`ah dan satu tahun setelahnya, 1900, Mar`ah jadîdah sudah “dinimakti” khalayak banyak, tandas bangun.

Qosim Amin, terbilang sukses dengan misinya: buktinya, sudah banyak hasil nyata dari perjuangan dan Ijtihad mulia yang bisa dirasa-nikmati banyak perempuan; meski perjuangan harus terus berlanjut. Sudah banyak perempuan bisa memperoleh Haknya, mengenyam pendidikan dengan layak memadai dan harkat martabat perempuan sudah mulai tidak dilirik sebelah mata, alias hanya menjadi konco wingking.

Dengan mengguna Analisa Sosial: sosio-kultur dan Sosiologis-historis, dengan didukung ‘kritik teks’ terhadap beberapa referensi Utama(Ummahât al-Kutb) yang berjilid-jilid ia bisa mendenahkan friksi sosial kemasyarakatan dengan adil, khususnya perempuan.

Dalam buku Tahrir al Mar`ah, beliau menekankan reinterpretasi terhadap teks-teks keagamaan yang menjadi subordinasi kaum laki-laki terhadap perempuan, sebagai misal: poligami, talak, dan Hijab(cadar) dengan melalui pendidikan yang layak-memadai sebagai pintu gerbang utama untuk membenahi kecarut-marutan mainstrem masyarakat; meski tidak sedikit tekanan, protes dan cercaan yang menganggap beliau telah “mendekte” syariat, khususnya dari pemuka agama di Mesir.

Di masanya, perempuan disamakan seperti budak, posisi dimasyarakat terbilang lemah tak jarang menjadi bulan-bulanan. Tak ayal, laki-laki gampang-mudah sekali berucap talak, dan poligami dengan semena-mena. Lek Qosim dengan friksi ini mengajukan solusi, talak, itu harus konstitusional. Sedang untuk poligami, itu adalah bentuk penghinaan terhadap perempuan dan akan mencipta perang batin yang berkelanjutan. Namun beliau memberikan “garansi” pada kasus jika Istri ada masalah: mandul misalnya. Tapi itu harus melalui persetujuan Istri jika istri meminta bercerai, suami harus-wajib menceraikan.

Berkiat Hijab(cadar), menurut Qosim Amin itu tak lebih dari Produk Budaya dan warisan dari nenek moyang, bukan tuntutan Agama. Dalam pemaknaan Lek Qosim, Hijab itu ada dua: Hakiqi dan Majaziy. Hakiqi adalah kain yang menutup wajah, sehingga orang lain tak bisa mengenal, sedang yang majazî: kungkungan suami terhadap istri, atau budaya patriarki. Untuk kasus ini, lek Qosim menolak keduanya. Itu tak lebih guna merendahkan derajat perempuan dan makna-subtansi cadar sudah melenceng dari maksud yang dikehendaki; khususnya di kala Interaksi sosial.

Pembacaan yang tak Tunggal

Setelah rekanita Bangun selesai presentasi, saudara Subkhi memberikan kesempatan bagi rekan-rekan lainnya untuk mengoreksi, memberi hal lain sesuai dengan bacaan dan pola pemikiran masing-masing. Setidaknya ada beberapa pandangan yang berbeda, tapi saling melengkapi untuk ini.

Rekan Ronny, kebetulan mendapat kesempatan pertama, mengutarakan: “untuk Konteks sekarang Qosim Amin itu sudah tidak relevan lagi. Sebagai misal, dalam konteks pemberdayaan perempuan melalui pendidikan misalnya, sekarang kita bisa melihat banyak perempuan sudah bisa menikmati itu. Maka “fardlu ‘ain” hukumnya untuk memodifikasi ulang gagasan Lek Qosim ini; khususnya peran di depan Publik, agar tak lenyap-menguap”, tandasnya satu-satunya anggota lakpesdam yang berambut gondrong ini.

Dalam hal lain, menurut rekan Faiq, catatan kepada Qosim untuk Feminis awal tidak berani menyentuh Teks Agama secara lugas jelas: Al Qur’an dan Al Hadits, tapi hanya berhenti pada pendapat Fuqaha. Tapi syukur, perkembangan Gender dan feminis bisa dikata terbilang dinamis, karena untuk konteks kekinian sudah banyak yang melakukan interprestasi ulang kepada ayat-ayat misoginis, Surat Al-Nûr ayat 30 misalnya dan hadits Imam Bukhori yang menyamakan perempuan dengan Anjing dan Celeng”.

Sedangkan rekan Irwan membahas identifikasi pemikiran Qosim Amin. “Dalam mengkaji relasi Gender dan feminis, baiknya kita tak menggeneralisir agar tak terjadi reduksi di sana-sini. Dalam “kaca mata” saya seorang feminis terkait tema itu ada dua: reflektif dan kognitif. Reflektif seperti Irsyad manji, Fatimah mernisi yang sadar akan pentingnya peran perempuan akibat dari pengalaman empiris tokoh tersebut. Sedang Kognitif, berawal dari realita sosial yang ganjil, kemudian dilakukan analisa yang ditopang teks-teks keagamaan maka lahirlah karya seperti milik Qosim Amin.

Sedang dalam pola tulis dan cara merekonstruksi frisksi, masih menurut rekan Irwan, Qosim Amin masih dalam tataran yang wajar dan santun. Tidak radikal dan tak juga terlampau bebas karena Qosim mengharap perempuan yang masih dalam kodratnya tapi bisa berfikir bebas, terbuka-inklusif namun masih tetep berpegang teguh pada akhlak Agama yang mulia; itu imajinasi-gambaran Qosim terhadap Muslimah yang baik.

Hal ini terlihat lebih komplit, ketika senior Atjeng membedah Qosim Amin dalam kaca mata Sosiologi Ibn Khaldun. “membedah (pemikiran)Qosim tak bisa lepas dari kemerdekaan Mesir Atas Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Ali Pasya dan lalu dilanjut putranya Ismail Pasya. Setelah Mesir Merdeka Ali Pasya mengadakan pemodernan dan leberasi secara besar-besaran dengan mengirim beberapa anak bangsa untuk belajar Ke Eropa dengan didampingi Ulama dengan maksud: meski sudah mencapai Ilmu setinggi langit tapi masih tetap memegang tradisi timur dengan keukeh; tak tercerabut dari tradisi. Selain itu, Ali dajn Ismail mengadakan pembangunan yang berkelanjutan. Mulai dari Infrastruktur, teknologi dan pola berfikir masyarakat. Nah, di masa Ismail, Qosim Amin adalah salah satu Anak bangsa menjadi proyek pembangunan-liberasi di Mesir yang dikirim ke Perancis.

Melalui Tahrir Al Mar`ah, menurut Senior Atjeng, Qosim ingin melihat perempuan negerinya, secanggih-secerdas perempuan Eropa, khususnya prancis. Di mana perempuan juga mempunyai peran penting dalam mengambil keputusan di dalam Rumah tangga dan estafet generasi bangsa secara Umum, melalui mendidik anak secara betul. Karena tidak melalui pertimbangan imbas sosial yang kurang matang, maka buku itu disempurnakan di tahun berikutnya: di Mar`ah al Jadîdah, papar senior Atjeng, dengan Harapan, sesuai pendapat rekan Irwan, menjadi perempuan yang matang, mental “baja” dan secerdas-secanggih perempuan-perempuan Eropa. Tapi kala berjalan tetep menunduk, senyum manis dikala di sapa dan Akhlaknya masih tetep berpegang pada Syariat Agama secara an sich.

Saturday, May 9, 2009

Isue Antasari(?)


Nasruddin Terbunuh, Antasari (jadi)tersangka?
Asmara, Kepentingan(Konspirasi) dan, barangkali, Nama Baik Institusi


Beberapa hari-minggu terakhir ini, berita kian panas-seru-menarik. Informasi di dunia maya, cetak, audio-visual semakin semarak dan rame. Tak ayal nilai jualnya pun melangit. Sungguh?

Mulai dari kancah politik: Pecah Kongsi partai Demokrat-Golkar. PDI Perjuangan yang Ngotot dengan Gerindra untuk menempatkan Posisi berkait Pilpres: bingung mencari dan mau jadi Cawapres. PAN yang, barangkali, mulai ‘Oportunis’ dengan ingin menjalin Koalisi dengan Demokrat bersyarat 'Ongkos' cawapres; di mana sebelumnya Partai ini mendeklarasikan sebagai “mitra kritis” pemerintah. PPP hampir mengguna ‘langkah kuda’ untuk koalisi; bahkan, hampir pecah. Tak ketinggalan salah satu ketua DPP juga di tangkap KPK berkait dugaan kasus korupsi, dan beberapa partai ‘Gurem’ yang tak jelas nasibnya. Aneh.

Tak kalah menarik-memukau hingga kita, meski dengan sedikit merasa getir-aneh, harus melirik awas berkait kasus dugaan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Utama PT. Rajawali Putra Banjaran. Terbilang menarik karena menyeret beberapa ‘orang penting’ di Negeri ini, tak ketinggalan salah satu ketua KPK(Non-aktif), Antasari Azhar. Dan pada senin(04/05) kemarin resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian ; katanya, sebagai Intellectual dadder(turut serta secara intelektual), meski masih simpang siur. Dengan sigap seketika KPK me-nonaktif-kan Antasari sebagai Ketua KPK sementara, dan dia sementara tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang strategis; secara simpatik Antasari pun ikut dalam rapat pengambilan keputusan itu.

Kuat dugaan sementara motif pembunuhan adalah berkait (perebutan)perempuan: Rani istri ketiga Nasruddin yang dinikahi dengan ‘ bawah tangan’, meski ada beberapa pihak yang bilang, barangkali ada konspirasi di belakang semua ini. Mungkin?

Personal atau Konspirasi
Sub. judul di atas pernah dibuat judul salah satu program acara televisi berita: Barometer. Sengaja saya pakai lagi, karena sangat menarik dan dalam, juga tak ada bias. Apa adanya, dan kemungkinan juga bisa lahir di situ; dari interpretasi sub. Judul itu.

Secara normal-wajar, sangat mungkin untuk bisa dibenarkan: seorang pejabat tinggi negara terbelit kasus yang remeh-temeh, perempuan. Dan, katanya, ini bukan rahasia lagi. Juga ini bukan yang pertama di negeri ini, di dunia ini: Presiden Gus Dur pernah terkena Isu ini, Presiden Bill Clinton tak mau ketinggalan, dan, sepertinya, jika kita telusuri hampir jamak dilakukan banyak orang penting-pejabat negara, barangkali. Tapi ketika yang dijadikan “ajang friksi istri ketiga”, meski dia cantik-lembut-anggun( dan beberapa predikat-prestisius lain yang melingkarinya), akhirnya itu menjadi luar biasa; tak salah jika dibilang aneh, meski konyol kedengarannya.

Muncul pertanyaan: ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Terkesan, itu hanya “guyonan belaka”, atau masyarakat yang mencoba melawan logikanya sendiri: tak mungkin pak Antasari melakukan itu, kalau yang lain mungkin saja(SHW, WW, GE, Gun dan lain-lain). ‘Konspirasi’ barangkali?

Apalagi, menurut salah satu keluarga korban: Andi Syamsudin, adik Nasrudin(korban), kenapa pada saat, dalam waktu dua belas jam, pas setelah kakak saya ditembak, seolah-olah ruang Uni Gawat Darurat seluruh jakarta yang canggih ini, penuh? Kenapa kakak saya hanya dirawat di rumah sakit yang biasa, kenapa pihak yang berwenang tidak mengambil tindakan penyelamatan dengan cepat-tepat? Wajar bila ada yang meyakini ‘skenario besar’ itu nyata adanya. Ini bukan orang biasa yang melakukannya, minimal yang mempunyai “kapital atau pengaruh”. Mungkin?

Takut sebenarnya menulis kata itu(konspirasi). Beresiko tinggi. Motif awal sebagai alat-jembatan untuk membuat logika yang lebih canggih sehingga memutuskan untuk melakukan tindakan yang fatal-konyol itu: menghilangkan nyawa. Di samping, ada kepentingan, perebutan-pesanan kekuasaan(jabatan), persaingan bisnis dan, tindakan mengelabuhi kepada tersangka: salah satu skenario negara. Aku tak tahu, tapi itu mungkin sekali terjadi.

Kepolisian: sampai saat ini penyelidikan masih berjalan, belum selesai. Kita bekerja sesuai bukti, saksi dan ada langkah verifikasi agar bisa komprehensif, valid, juga tidak bisa dilawan dengan logika yang, barangkali, berdasarkan asumsi atau duga-an, begitu kata salah satu anggota kepolisian, Humas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi(AKBP)Chrysnanda Dwi Laksana; dan jangan sampai mengeruhkan suasana dan menghakimi, baik secara hukum maupun pribadi-sosial.

Penyelidikan semetara, katanya, motif awal adalah perempuan. Kemudian terjadi friksi yang berujung pada pemerasan; akhirnya Pak Antasari menyusun rencana dengan Sigid dan Wiliardi untuk melakukan itu(pembunuhan terhadap Nazrudin) dengan menyuruh-mengguna “tangan” beberapa orang; Wiliardi yang ditugaskan mencari orangnya, begitu kata salah satu Reporter investigasi Tempo. Di samping, ada kepentingan yang lebih besar: perebutan kepentingan, pesanan kekuasaan, dan cinta itu sendiri. Tapi, reporter ini menambahkan, kebenaran Jurnalis(hasil investigasi) bertempat satu atap di bawah penyelidikan kepolisian, dan, segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Sementara Pengamat sosial dan kriminolog, Andrianus Meliala, mengatakan: sebelum reformasi, konspirasi itu akan(bisa) terjadi kepada siapa saja. Termasuk orang tidak melakukan perbuatan itu, kemudian di Blok up sedemikian rupa seolah-olah itu terjadi. Sekarang, beda. Personal itu melakukan tindakan, baru publik akan menghukum dengan beberapa kasus lain yang mengitarinya, jadi tidak terlalu banyak itu( konspirasi) terjadi pada kasus ini. Dan benar adanya: tidak sebatas perempuan, ada hal lain di belakang itu. Di samping, kasus ini akan menjadi bahan komuditas paling laris di tahun ini(2009), setelah tahun kemarin ada kasus Riyan; karena ada Tokoh besar, skenario besar, dan ada unsur perencanaan.

DPR pun tak kalah ‘girang’ dengan mencuatnya kasus ini. Seolah menjadi pahlawan, dan (paling) tahu hukum perundang-undangan, mereka bersorak-teriak. Mulai dari friksi legalitas KPK— keputusan KPK diambil 5 orang—, mendesak Presiden untuk memberhentikan tetap Ketua KPK itu, bahkan, ada salah satu anggota yang mengganggap, meski menurut saya agak keterlaluan, KPK sudah tidak diperlukan lagi dengan dalih Kepolisian, Kejagung dan instasi Hukum terkait sudah berjalan dengan maksimal dan bagus. Benarkah? Di samping, komoditas isu yang “empuk” guna menyongsong pilpres juli mendatang. Barangkali?

Istri tersangka, Ida Laksmiwati, tampak tegar menghadapi problem ini. Sudah biasa katanya; bukan hal baru lagi. Bahkan dahulu, ketika suaminya menjadi jaksa dan, “mampir” pada kasus Tommy Soeharto, lebih mengerikan dari peristiwa ini. Baik dari ancaman, teror dan pelik-rumitnya friksi; begitu ungkap Ida. Ditanya soal perselingkuhan, dengan nada datar-santai menjawab: saya yakin suami saya tidak begitu. Saya tahu betul karekter dan kebiasaan dia, apalagi dia bukan orang yang romantis. Tapi, dingin dan cool. Sedang, yang(akan) dilakukan dalam menghadapi kasus ini: mengambil hikmah dan tetap memberi dukungan moral-semangat kepada suami dan anak-anak. sehingga semua bisa baik-baik saja, tidak ada yang dirugikan, dan terang-benerang ujung dari semua ini.

KPK Mandul?
Secara emosional akhirnya ada beberapa Instansi yang akan senang, dalam tanda petik, dengan predikat status tersangka kepada Ketua KPK(Non-aktif), Antasari Azhar. Terlihat secara kasat mata: Kepolisian, Kejagung, dan yang biasa terkasus: DPR. Nyata harus diakui, KPK mempunyai prestasi yang boleh dibilang cukup baik, meski tak prestisius, di tahun ini jika dibanding kepengurusan sebelumnya. Terbukti, sampai Besan presiden pun jadi “tumbal” berkait kasus dana aliran BI, Aulia Pohan. Secara tak sadar lembaga ini akan menciutkan kharisma Instasi-instansi yang hampir serupa dalam tugas-peran dan fungsi, terutama kepolisian dan Kejagung yang belakangan lebih banyak dibilang mandul.

Wajar, kejagung begegas mendahului Kepolisian untuk mengumumkan Predikat tersangka itu. Kepolisian pun terbilang ekstra Hati-hati dalam menangani kasus ini; Bambang Hendarso, kepala kepolisian RI menyatakan akan menjadi prioritas untuk kasus ini. Dan saya pun berharap tidak menjadi X-file seperti kasus aktivis Ham Munir, penculikan Para mahasiswa pada 93,96 dan 98, predikat Para tapol PKI yang sampai sekrang belom selesai dan bejibun kasus lain yang lebih penting itu. Semoga?

Bagaimana dengan KPK? Semoga tidak mandul; ini tantangan. Itu pernyataan yang sepertinya pas-cocok ditulis. Mereka hendaknya menjaga rapor yang baik dalam perjalanan beberapa tahun belakangan; meski tanpa kehadiran Antasari(ketua KPK yang Nonaktif itu). Itu sangat mungkin. Menurut beberapa berita, sistem di KPK memungkinkan itu. Di samping lembaga pemberantasan korupsi menganut sistem kolektif, bukan individual dalam pengambilan keputusan. Sedang untuk legalilitas, seperti yang disampaikan beberapa anggota DPR, menurut saya: itu bukan subtansi yang jadi problem. Dan kasus Antasari itu (masih) kasus pribadi; tidak berkaitan dengan institusi KPK sama sekali.

Jadi tak ada alasan KPK 'berhenti' untuk sementara. Tak terbuka kesempatan, KPK untuk cuti dalam menangani kasus yang sudah pernah di ekspos di berita: kasus Abdul Hadi Djamal (dari PAN)dan Rama pratama(PKS)berkait pembangunan dermaga Di Indonesia (bagian)Timur, Aulia Pohan (atas dana Aliran BI)dan beberapa kasus lain. Apa yang akan dilakukan-diambil tindakan oleh KPK? Kita lihat aja perkembangannya. Tapi, apapun yang terjadi supremasi hukum harus tegak di Negeri ini. Bagaimana rekan-rekan, setuju?semoga!

Monday, May 4, 2009

Konstelasi Politik Memanas, aku Curhat (?)


Aku Bicara(Politik) “Pada Kau yang di sana itu”

Sudah sejak kemarin, saya menjalin komunikasi-awas mengamati perkembang politik, dan, sebenarnya, ingin sekali menoreh-tuliskan hasil seklumit dari pandangan saya atas terjadinya fenomena-fenomena yang tak jarang mengagetkan, buat takjub dan, kadang kala, saya harus berani berkata: itu meng-getir-kan dan seharusnya tak terjadi; tapi baru sekarang aku menulis, meski tak bagus. Kalau saya tak salah, sepertinya sudah lebih dari tiga kali(melalui pesan singkat dengan media maya yang paling populer), saya berkomukasi dengan pengamat Politik ke-indonesiaan, masih dalam skala Masisir(Mahasiswa Indonesia di Mesir); tapi, harus saya akui Ia garda depan dalam hal ini. Sungguh?

Mulai dari friksi yang sepele: tanya kabar, dan saling tukar informasi biasa, tanya tokoh politisi yang dikagumi. Sampai, friksi yang berskala nasional(dalam kancah politik): cerai SBY dan JK; JK dan Win mendeklarasikan diri; dan Mega Hampir tak bisa maju sebagai Capres; Koalisi “Jumbo dan padat” dan beberapa friksi yang sebenarnya tak ada problem bagi kami berdua jika tak membahas, tapi dengan gagah(tapi tak angkuh-sombong)-meski sedikit “getir-dredeg” tetap melaju dengan santai dalam membahasnya itu. Bukan untuk apa dan siapa, tapi lebih karena kepuasan Hobi dan, barangkali, kecenderungan yang hampir sama.

Setelah berkutat pada pembahasan sengit berkait partai yang selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat—ada yang menggunakan bahasa: “kepentingan yang lebih besar”, Hajat-haarapan Rakyat; dan, beberapa Istilah yang menurut saya itu sungguh naif untuk dilontarkan—, PKS yang lebih cenderung Pragmatis dan, terlihat juga taraju’, berkait konsistensi dia dalam mencalonkan “capres dan cawapres balita”, dan, dilihat dari segi politis, pola-cara dia mengajukan “cawapres” dan bentuk koalisi: “agak aneh”. Lalu pembahasan Panjang “Blok Teuku Umar” yang mulai menunjukkan hasil dari koalisi besarnya, di negasi Demokrat dan “bolo kurowo”-nya dengan Koalisi “Padat-disiplin” meski dengan langkah lambai-lemah lembut; barangkali karena secara psikis mereka sudah yakin SBY akan memenangkan Pilpres dengan pola-cara apapun, mungkin. Kemudian, dilanjut membahas: berkait koalisi( pola cara menjalin koalisi dan beberapa intrik yang mengitarinya), pen-capres-an, dan pergantian generasi yang dikira-dirasa lamban dan, Barangkali, kurang adanya ruang(atau malas-kurang kreatifnya) bagi generasi selanjutnya. Di mana, sebenarnya beberapa friksi ini sudah pernah dibahas, dan sekarang mencoba untuk diperdalam; tentu sesuai dengan pengetahuan masing-masing, terutama saya.

Di awali dengan mukaddimah dengan menerangkan kondisi ‘aku’ dan sesuatu hal yang mengitari diri aku: sebelumnya, aku Mohon maaf karena baru bisa membalas Tulisan yang sangat, menurut saya, Fantastis-bagus itu. Tulisan dengan analisa yang "Matang" dalam konteks ke-masisir-an, dan garda depan untuk kaum perempuan; menurut saya. Sedang, keterlambatan saya membalas ini lebih dikarenakan: dari kemarin Pagi—setelah membaca Tulisan ini— saya pergi ke kuliah, ke Atabah untuk cari beberapa Buku(rekreasi setiap awal BUlan sambil menghilangkan penat-muqorror), dan malamnya aku ada janji main ke rumah Rekan saya: Mas Yunus masrukhin, jadi nyaris aku sekarang, di saat memulai menulis ini(menjawab tulisan ini), aku baru pulang ke rumah dengan-secara fresh. Kemarin, hanya beberapa menit saja untuk pulang, maka aku baru bales sekarang; sekali lagi, dengan getir aku memohon maaf.

Oh ya, di Atabah aku dapat buku Bintu syati'(Turâtsina Baina Mâdlin wal Hâdlir), Najah Muhsin(al Fikr al Syiyâsi ‘inda Muktazilah) dan beberapa buku2 marxisme. Dua pemikir itu semua perempuan dan bagus-energik juga pada masanya; apalagi Bintu syarti' dan, semua di dârul ma’arif. Sedang, buku2 marxisme itu ada di Azbaqiyyah.

Berkait Koalisi, baik itu "Teuku Umar maupun koalisi padat-disiplin", itu sah-sah saja. menurut saya itu masih dalam tahap wacana, sedang secara meyakinkan baru bisa kita saksikan dan kita nilai secara nyata, di awali pada-setelah putaran tahap kedua, dan(atau) setelah pemilihan kabinet; alias Pemerintahan terbentuk secara komplit dan nyata. Karena apa, koalisi yang sekarang terbentuk, untuk konteks ke-Indonesiaan, masih sangat rawan untuk berubah-ubah. Baik itu dari faktor Intenal koalisi itu sendiri, atau orientasi pragmatis dari Partai-awak partai, itu masih sangat mungkin. Partai Golkar tahun 2005 pembelajaran yang sangat kasat mata.

Selain itu, jika benar adanya: adanya Blok yang jelas dan konkrit dalam program kerjanya, maka, sependek pengetahuan saya, Indonesia akan menjadi negara ketiga-berkembang pertama yang menyatakan secara maklum dan aklamasi: bahwa ada "kelamin" yang jelas dalam tubuh parlemen-DPR. Mana pro pemerintah, mana Oposisi. Ke mana Pemerintah "lari", Ke mana pula Oposisi mengkontrol; untuk Konteks sosial-politik itu bagus. Di samping hasil dari pendewasaan dalam ranah Politik semakin kita bisa lihat bersama. Lalu, masyarakat pun jelas, apa betul pemerintah berpihak atau malah incambent "memeras" bak rentenir. Selain opisisi pun harus bisa menempatkan-dan membuat program yang harus-selalu pro rakyat, jika tidak tamatlah riwayat negeri yang aku-kita cintai ini. mungkin? Ini juga sesuai dengan keinginan Anas Urbaningrum, efendi simbolon dan, jika kita lihat belanda, jerman, perancis itu sudah melakukannya. Begitu juga Amerika serikat.

Pen-capres-an, jika kita gunakan pendekatan yang ke-dari-"bawah", tentu rakyat tak akan pernah suka dengan keputusan cerainya SBY-JK. Itu sudah dibuktikan: exit poll misalnya, 70% kecewa dengan keputusan cerainya SBY. LSI 60%, lingkar madani 55% dan, barangkali, beberapa program suvey lainnya yang aku tidak tahu. Namun, jika kita pakai Analisa "Atas"(lihat kontelasi Politik, Elit Politik, dan kedewasaan Berpolitik para Elit POlitik) tentu ini menjadi nilai Jual yang sangat menarik, spekulasi pun bisa ada celah, dan kepentingan juga tak akan kunjung redup.

Saya katakan ‘nilai jual’ lebih tinggi, karena para elit itu, kalau mau jujur, sebenarnya juga tak terlalu suka dengan beberapa keputusan SBY dan pemerintahannya yang ada. Misal kenaikan BBM yang di atas rata-rata lazim-biasanya, dan turunnya pun lebih bersifat politis, dengan ganti BLT yang secara administrasi sangat bermasalah di lapangan. Peng-Amin-an Pemerintah atas program kerja Outsorucing, Lapindo yang belum selesai-selesai dan terlalu ragu untuk mengambil keputusan. Ini terjadi Di partai Golkar itu pasti, Partai PAN dan PKB untuk BBM dan BLT; PKS itu di program Lapindo. Sedang, kalau PDI perjuangan sudah tentu dia Garda depan untuk "buat recoh pemerintahan"; tapi saya berterimakasih dengan PDI perjuangan meski saya bukan-tidak pro pada dia. Dan, masih banyak lagi program yang kurang sesuai, di samping ada beberapa program, yang juga tidak sedikit, pro pada rakyat, misalnya UKM dan kebijakan Fiskal yang jelas(meski baru turun-cair dananya). Maka, jika SBY-JK pisah tentu memberi suatu situasi yang baru, dan wajar pula, untuk politisi, itu menjadi "proyek baru dengan mengatasnamakan rakyat mereka masing-masing", barangkali?

Kalau melihat peluang SBY sendiri, karena di Indonesia untuk Capres dan cawapres itu, lebih dilihat Capresnya: maka dia “sudah di atas langit”; Hampir nyata dia akan melanjutkan pemerintahan. Maka, sebenarnya dia, menurut saya, tak usah terlalu getir-hati-hati untuk memilih cawapres. Biasa saja(meski aku juga masih ragu jika dia salah pilih cawapres, apalagi kalau ama PKS dan pak Hidayat, sungguh aku bimbang).

Berkait Budiono yang diusulkan rekan komunikasi aku sebagai cawapres SBY, itu kalau secara profesional kerja, saya setuju. Selain beliau kerja konkrit bagus, juga image politik itu nyatanya adem ayem. Tapi jika kita lihat lebih cermat lagi, pak Budiono yang terhormat itu, kalau dibanding Ibu Sri Mulyani, tentu kalah dalam kans Politik. Meski Budiono Bagus dan bersih, tapi dia kurang kans, kurang pengagum dan kurang menjanjikan untuk dukungan massa. Di samping, menurut kredibilitas menteri beliau di bawah Ibu Sri Mulyani satu tingkat. Coba dipertimbangkan !!!

Sedang untuk Sri Mulyani itu bagus, kalau alasan saya, karena sebagai representasi Perempuan; biar isu emansipasi itu tidak "menguap", dan nyata secara realita. Bisa Harmonikan-bisa klop sekaligus menepis pendapat kalau Bapak SBY yang terhormat itu Patriarki. Di sini lain, tidak ada yang bisa memungkiri: kalau Ibu Sri Mulyani itu emang secara kualitas baik adanya. berani dan cekatan-cepat mengambil keputusan, setidaknya bisa menutupi kekurangan Bapak SBY yang terhormat itu; orang nomor satu di negeri ini(tapi bukan berarti aku pendukung secara mutlak, sebagai wacana dan penafsiran boleh lah, ho ho ho ).

Lalu, untuk nasib Partai Demokrat, kenapa kok orang profesional(non-partai): itu lebih kepada, secara kepartaian, itu Partai Demokrat bisa selamat. karena tidak ada ‘Anasir-anasir kepentingan partai’ yang bernaung di sana. Selain itu, Partai Demokrat bisa serius dan lebih adil kepada partai-partai yang sedang ikut berkoalisi dengan dia; lihat saja, partai yang mendekat ke demokrat kan tidak terlalu signifikan selisih suaranya(PKS=7,...%, PAN=6,..%PKB=5,..)dan mungkin, masih bisa berubah. barangakali? Kalau dilihat secara "presidensial", itu lebih sehat: karena untuk konteks presidensial itu harusnya koalisi di Pemerintahan dan parlemen itu harusnya tidak selalu berbanding lurus. Tapi bergantung selalu dengan proyek dan pro-rakyat apa tidak. Jadi tidak ada alasan untuk partai marah jika menterinya dicopot lalu partai muring-muring, cawapres kalau memang baik, meski tidak dari partai, harusnya-layaknya didukung. Dan, pemilihan kabinet, itu baiknya didasarkan pada Kompetensi, kualitas dan loyalitas yang baik kepada bangsa dan negara, bukan dari hasil kader-kader partai yang tak jarang kompetensi-kualitasnya dipertanyakan, untuk tidak mengatakan kurang baik,(atau)bahkan cenderung “buruk”. Jika model seperti ini terbentuk, maka sistem presidensial yang kita anut bisa menjadi contoh baik bagi negara-negara yang sedang berkembang dan ketiga di belahan dunia ini.

Kemudian, untuk program pemerintah dan visi-misi, itu sah dan syarat mutlak bagi aku. Dan sepertinya kita di sini satu madzhab, barangkali. Namun, kadang aku sedikit bertanya: kenapa kok sampai sekarang itu belum keluar, kenapa? Pandangan "kasar" saya: apa ini salah satu trik untuk mengalahkan lawan, dan mencari ‘aman’ bagi dia agar kelemahannya tertutupi sedikit; mungkin sekali. Atau menunggu SBY untuk mengeluarkan Visi-misi baru yang dia tawarkan kemudian pihak lawan buat yang lebih baru dan, menurut mereka lebih baik. Entahlah? Tapi realitanya, masih lama untuk bisa mendedah visi-misi dan beberapa kriteria yang pas bagi capres dan cawapres. Saat ini, mereka(para politisi elit itu) masih bersibuki dengan menggalang massa, ‘sowan’ sana-sini, dan saling memastikan akan ada tahap kedua Pemilihan presiden; lalu "Dia" bisa masuk pada putaran tahap kedua. Barangkali?

Maka wajar, salah satu trik JK-Win itu mulai memelas dan hampir mirip dengan SBY dahulu kala(di saat, katanya, di-dlôlimi Megawati). Meski dilancarkan dengan elegan dan lebih sportif; bukan begitukan(?) Dan, bahayanya, JK punya data kuat, lebih-lebih jika itu jadikan suatu isu yang "panas" dan bisa menarik simpati-empati masyarakat, maka dengan sendirinya kharisma SBY pun akan bisa melemah, untuk tidak dikatakan "Jatuh". Sedang untuk Mega sepertinya dia menang dengan masih fanatik-Ta'asub-nya rakyat kecil pada dia. Dan kalau PDI perjuangan masih kompak tak ayal, di saat kenyataan berbicara, Ia bisa lolos dengan mudah ke putaran kedua. Mungkin?

Harusnya, untuk langkah afirmatif-hati-hati, Demokrat dan bapak SBY yang terhormat itu, lebih mangambil inisiatif dengan cepat. Dan berkata: berani bersaingan secara "jantan", tidak cukup dengan "sportif"; meski ini juga penting. jadi banteng di lawan dengan banteng; kan tambah ramai.

Terakhir, adapun adanya wajah lama itu keniscayaan. Dan masih saya anggap fenomena yang wajar(meski kita jangan sampai kecil hati apalagi minder dengan kenyataan yang tak nyaman ini), tapi baiknya harus kita waspadai. Kalau agak memperlebar: setelah reformasi Indonesia nyaris kehilangan yang bisa silih berganti. Baik itu dalam ranah intelektual, ekonomi, dan para politisi yang sering ngantuk di senayan. Dari kader Intelektual(khususnya di ranah ke-Islam-an): kita masih selalu dibayang-bayangi oleh tokoh2 tahun 70-an yang antara lain: GUs Dur, cak Nur, Mukti Ali(almarhum), Fran magnis suseno(untuk kalangan Filsafat-epitemologis) dan beberapa lainnya yang mulai sedikit demi sedikit sudah mulai Almarhum. Dan hanya mereka yang mempunyai power dan berani dijual, dalam arti positif, ke luar negari untuk membawa image positif bagi Indonesia ke Dunia Internasional. Ekonom tak jauh dari Emil salim, Kwik kian gie,( tapi untuk ranah ini sudah mulai berganti, dan menampakkan hasilnya: ibu Aviliani, Sri Mulyani, Budiono, dll). Sedang untuk politisi, ini yang sangat susah berganti. karena mereka, menurut saya, yang punya idealisme tinggi dan komitmen kepada masyarakat tapi tak berbanding lurus dengan dukungan masyarakat. Misal partai-partai yang baik dan idealis itu nyaris suaranya kecil, jadi mereka pun tak bisa membuktikan secara konkrit di Parlemen; tak lebih hanya “cuap-cuap” yang kadang buat telinga ini risih. Maka partai lama tak lebih hanya sarang borjuisasi para politisi kawakan yang hanya bermain cantik di elit politik, tapi untuk kerja nyata sebenarnya masih ada yang bisa lebih baik. barangkali???

Saturday, April 4, 2009

Berkait Nyontreng: Curhatku di Milis PMIK (?)


PMIK Ramai Nyontreng, Aku Curhat (?)
Pantulan atas Jual Kecap, sebermula-seberhingga

Sungguh menarik, meski sedikit emosional-normatif Milis Terbesar Masisir di Kairo ini. Milis yang aku singgahi: PMIK. Kemarin, yang beberapa saat terhenti-atau sengaja vakum, aku tak tahu, sekarang sudah mulai menunjukkan "moncongnya" sehinnga bisa teduh-sejuk, ibarat siang hari di bawah Pohon, yang akhirnya 'putih' kembali. Meski sedikit "membiru"; semoga aja, barangkali?

Tak tanggung-tanggung, dari mulai yang biasa keliatan-nongol, sampai senior-kawakan: dari rekan khorul asdhik-rekan Mus'ab, Syamsu Alam Darwis, sampai pak Cecep. Indah-bak pelangi; kata Mahar dan Lintang. Saling melengkapi, meski sedikit ada 'negasi-gejolak'. Itulah, barangkali, yang membuat 'syahwat' aku untuk nulis lagi di Milis yang masih di Folder inbox-ku.

Hariman Siregar, dalam salah satu wawancaranya, berkata: di Indonesia masih jarang kita ketemukan aktor Politik, aktivis politik apalagi caleg yang bener-bener mempunyai kemampuan yang matang, keterpilihan yang layak, masih sering Politisi-Politik-berpolitik berdasar "Darah"; Meski sudah ada yang menyuarakan "cairnya" Politik tapi itu tak lebih hanya untuk "meraup" suara. 'Penyakit', kalau boleh aku sebut begitu, menjangkit hampir semua elemen. Maka tak ayal, masuk pada system parlemen, pembuat undang-undang dan beberapa hal yang berkait kelindan dalam wilayah Politik-kuasa. Politik yang seharusnya untuk "ladang" pengabdian, tapi tak lebih hanya "orkes goyang gergaji" sampai panggungnya Roboh. Calegnya pun adu jotos, disoraki lagi sama Pendatang kampanye. Ini bukan hanya menjadi bahan sarapan orang "Urakan" tapi juga "Kaum Pendiam"; bukan hanya "pemabuk" tak ketinggalan "Pen-dak-wah" pekerjaan sehari-setiap waktu. Tak pandang bulu, partai Nasionalis, Religius-Nasionalis, dan, tak ketinggalan, Islamis: yang ngaku Ideologi Islam, Ormas Islam dan, yang pasti, barangkali, tak aneh kalau saya ber-konklusi: Partai Islam Bukan Islam. Sungguh menyedihkan, barangkali?

Kata ayah saya, kala aku bertanya: Pah, untuk "rakyat kecil" sih, sampai sekarang ada pengaruh langsung g sih ketika dia mencontreng apa tidak? Bapakku jawab, ya untuk sampai sekarang tidak ada. Untuk secara pragmatis-langsung. Lhoo.., bukanya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintahan, untuk mengkontrol pemerintah dan badan legislatifnya, dan beberapa birokrasi Negara pripun niku Pah?, itu kelakar-bantahku. Beliau dengan santai pun menimpali: lhoo, iku kan kowe. Sing kuliah, mahasiswa yang sudah berfikir rasional-sekaligus tahu sistem. Nah, kalau seperti Papa-e, yoo asal pemerintah berani membeli "mahal" dan "menjual" di pasar Murah, rakyat kecil-petani pasti akan merasakan hasilnya. Kantongnya pun akan terisi, duit rabuk-mes (pupuk padi) pasti bisa "ditomboki". G susah tooo…, tapi itu belum sepenuhnya, ingat sekali lagi sepenuhnya, tersampaikan sampai ke Rakyat. Apalagi buruh Tani. Sungguh menyedihkan, Mungkin?

Ketika aku Tanya berkait Golput dan mencotreng salah satu pilihan, bapak saya menyerahkan sepernuhnya kepada saya. Dan, tidak dikasih arahan, apalagi doktrin untuk memilih partai yang dikehendaki keluarga-ibu dan masifnya pilihan di desa saya. Itu mungkin hakekat demokrasi yang dipahami ayah saya. Hanya diberitahu: kemarin papae karo cah-cah nom, ndemo nang kabupaten untuk persoalan DPT. Sedang untuk data yang kesleo pengambil BLT, papae Ndemo lurah nang kelurahan. Sedikit informasi, dana BLT yang tersampai ke Rakyat, beberapa persennya di manfaatkan lebih lanjut, khususnya ibu, untuk pengembangan koperasi dan PKK. Lucunya, tak ada Parpol yang melirik, apalgi perhatian akan hal-hal yang baik itu. Aneh? Apa guna parpol-pengurus Parpol, selain masa pemilu-kampanye? Ladang pengangguran, dan ngoceh "Jual kecap", ini prediksi paling lemah, brangkali.


Di Kairo, sependak aku lihat: pegiat Parpol di sini tak punya program konkrit untuk Masisir, apalagi suatu program yang disodorkan untuk bangsa; sungguh termangsa secara tak sadar. Aku melihat, mereka hanya menjadi perpanjangan tangan saja. Penyalur informasi dari DPP. Dari atas-pusat. Tak lebih. Lebih, mungkin, dari pendapatan bukan pendapat yang menyegarkan-progresif. Hancur-parah-anehnya semua kayak "jual Kecap". Kata rekan saya, seperti Lomba Pidato; itu kalau pake asumsi serampangan, tapi patut untuk diperhitung-renungkan.

Mereka menyuarakan perbaikan legislatif. Peningkatan funmgsi legislasi. Paling banter, DPR "bersih". Sedang yang lain, masih Normatif: kesejahteraan, Selesai, Kemajuan, Kemakmuran dan Bla-bla-bal….., yang semuanya hanya patut untuk di buang dicomberan-keranjang sampah. Manis di mulut, pahit di realita: NOL realisasi. Pemerintah "Bersih"; kalau saya Boleh bicara, bersih atau bagi-bagi menteri. Parlementer atau Presiden-sial. Itu aja belum tuntas-selesai. Aku "wapres" 80% kabinet milik saya, bagaimana? Koalisi tapi saya Diberi "wapress"? untung Bukan woardpress.

Untuk PPLN, aku kira tak salah jika semuanya yang di sini bersinergi. Aku kemarin udah diberi Surat undangan untuk men-contreng. Untuk Rumah aku sudah semua, kecuali mahasiswa baru: karena mereka semua tak ada yang membawa surat pengantar dari TPS setempat, mungkin baru besok ngurus. Itu pun kalau mau. Ya, kalau mau (?) Laiknya Mahasiswa yang ngaku "aktif", baik-bagusnya dia aktif untuk mengambil surat. Bukan menunggu Bola, tapi mengambil bola; tadi Fulham kalah 1-0 lawan Liverpol karena menunggu, bukan menyerang. Sedang untuk datang atau tidak, menggunakan Hak, atau membuang surat ke "tong sampah" itu urusan lain: Pribadi masing-masing. Dan ini sudah diatur.

Untuk saya, karena hanya sebagai orang yang melihat "akrobat Politik", tak aneh jika aku masih Gelap. Usaha untuk mencari tahu sudah aku lakukan. Mulai jejaring sosial melalui FB, YM, diskusi sama teman (bahkan aku barusan selesai kemudian aku nulis beberapa coretan ini)—baik di Indo maupun di sini, pegiat Parpol atau pun simpatisan, dan tak ketinggalan, juga kenalan saya "caleg" dan pegiat politik di Indonesia, tapi, ya…., semua masih Nonsen, alias Kosong. Masih "Jual kecap"; meski lebih menarik-memukau dari Masisir. Kita bersatu: untuk memberi solusi atau menambah problem baru? Kalau yang kedua realitanya, bukankah Diam itu emas wahai rekan?


NB:
Nyontreng-tidak itu urusan "aku", bukan kamu. Apalagi "Dia". Kau hanya menawarkan "busa". tak lebih. Dan itu pun masih, telah, dan, mungkin, akan menjadi "Palsu". Dasar...(?)

Resensi (Film) Laskar Pelangi


Seklumit Kesanku Pada “Laskar Pelangi”

Produksi : Miles Film & Mizan Production
Sutradara : Riri Riza
Produser : Mira Lesmana
Judul Film : Laskar Pelangi
Resentator : Ronny El Zahro

Kalau boleh saya bicara: Selayaknya “laskar pelangi” selesai di saat Ikal mengejar Lintang—seperti papar Syamsul Arifin di blog Liputan6—, pesan kuat akan ironi yang menggilas ‘mimpi’ bocah jenius asal Tanjung Pelumpang (Pesisir Belitong) yang putus sekolah akibat ayahnya meninggal —tepatnya Hilang kala melaut— bakal menerbitkan bejibun pertanyaan, dan tentu, film ini berakhir akan lebih “klimaks”; bukan datar seperti, kata teman saya: ‘Sama persis seperti di dalam Novel’. Inilah, mungkin, konsekuensi Logis kala menggarap Film hasil adaptasi dari sebuah Novel; bahkan, tak jarang reduksi yang mengecewakan (?)

Bagaimana Ikal mengejar mimpinya ke Paris, seperti yang selalu dibisikkan Lintang setiap waktu? Bagaimana Lintang menafkahi ketiga adik perempuannya, anak jenius yang putus sekolah dan yatim-piatu itu? Dan, tentu, serial film selanjutnya, Sang Pemimpi, lebih dinantikan oleh para penggemar Fanatik Andrea Hierata atas karya Tetralogi-nya (Laskar pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan, sekarang, Maryamah Karpov baru terbit), barangkali?

Riri reza dan Mira lesmana terbilang sukses besar atas garapan Laskar pelangi. Baik terkait materi, tentunya; tapi juga memberikan secercah harapan bagi mereka-mereka yang ter-majinal-kan. Meski Film ini demikian, sebenarnya secara subtansi tak jauh beda dengan “Denias, Senandung di Atas Awan”: Mengobarkan pentingnya pendidikan bagi semua anak Nusantara dari Papua sampai Nangroe Aceh Darussalam. Begitu juga kala mengeksporasi Indahnya Belitong, itu juga tergambar di “Denias, Senandung di atas Awan” yang meng-‘gebrah uyah’ elok-seksi-nya pulau Papua yang jarang kita sebut-lirik itu. Bersibukinya dia meng-ekplorasi Belitong kala Lintang bersepeda: Akhirnya tampak rawa-rawa, sawah, kebun, jalan-jalan baik yang becek maupun sudah di-Aspal; tak ketinggalan buaya yang, konon katanya, barangkali, sudah maklum di dataran Belitong. Laut-danau Belitong nan indah. Juga seksinya pelangi setelah Hujan reda. Satu sisi, baik untuk mengerti akan pentingnya kedaulatan -mempertahankan-melestarikan NKRI; salah satu pesan kuat pada penonton. Tapi, di sisi lain , itu terlihat “muspro” dan hanya memenuhi-memperpanjang durasi Film.

Lain sisi, Riri sukses besar menggambarkan tatanan sosial yang kontras. Ada jarak yang nan jauh antara si miskin dan si kaya. Anjuran pake “Helm”(Tutup kepala kala mengendarai sepeda motor), tapi tak banyak yang punya sepeda motor. Menghitung dengan kalkulator, sedang di seberang dengan pecahan “pring(bambu)-sapu lidi”. Kesempatan sejahtera benar-sungguh hanya untuk mereka yang secara ekonomi bagus, kesempatan sekolah yang masih saling memarjinal-membeda-beda-kan. Antara si miskin dan kaya; antara yang normal dan yang cacat. “Dilarang masuk bagi jang tida punja hak”, coretan di depan pintu gerbang Pabrik PN Timah. Dan, kata yang telontar kala ayah Ikal mengantar sekolah:“Percuma sekolah entar juga jadi kuli timah”.

“Pendidikan yang dinilai dengan Hati, bukan materi yang hanya sesuai kurikulum”, obrolan pak Harfan dan pak Zulkarnaen. Sekolah yang membuat orang menjadi “peduli”, bukan alat untuk meraih “kuasa” syarat lulus sebagai ‘caleg’; lebih-lebih hanya untuk cari kerja. Dan, semoga, Inspirasi itu tak berhenti kala selesai menonton Film itu: Setelah usai kita meng-close program di komputer lalu tak ada yang berubah di dalam hidup “saya”, anda, kita dan semua; tapi, selayaknya, terejawantahkan dalam perilaku-etika sehari-hari. Begitu juga semangat Lintang yang mengobar-membara?

Karakter pemain di Laskar pelangi yang natural-beragam memberi “warna tersendiri” di Film itu. Anak Belitong asli, yang tak pernah mengerti Dunia Film, sudah bisa menyelesaikan kesulitan itu. Tak ada tokoh Antagonis bukan menjadi hal yang sulit bagi Riri untuk membuat film tetap Hidup-berkesan.

Lintang yang terlihat damai dengan Nasib: Dewasa, sabar, tekun, ulet dan punya semangat luar biasa untuk belajar. Terlihat, Dia sukses membuat diam Anak SD PN Timah kala Ikut serta Lomba Cerdas Cermat. Terlihat jelas, kala dia bisa menyelesaikan Friksi di saat “soal” terakhir yang menjadi perdebatan berkait hasil jawabannya. Tapi, ironis, lintang yang selalu ingin datang lebih pagi, selalu membaca buku, dan murid pertama Bu Mus, dia pula yang pergi lebih dulu; dan, seperti yang aku tulis di atas: Harusnya di situlah Film selesai.

Mahar meski “slengek-an” tapi banyak akal dan tanggung jawab; bocah perangai seniman itu, membuat habis ‘aku’ terpana. Keterbatasan bisa disulap menjadi daya kreatif yang menyihir-membuat tawa terbahak dan hiburan tersendiri bagi warga di sekitar PN Timah Belitong. Dia membuat tarian Mistis —kuat dugaan dia terinspirasi dari isi majalah dari Floriana— dengan bahan dedauanan, kapur barus, dan kulit tubuh menjadi kostum abadi. “Tenang saja, serahkan semua pada Mahar dan Alam”, paparnya kala diberitahu oleh Pak Harfan kalau tidak ada dana untuk Fertival karnaval. Berkat itu pulalah SD Muhammadiyah Gantong untuk pertama kalinya bisa dilirik-diperhitungkan. Juga membius Floriana —salah satu siswi SD PN TImah— untuk pindah dan berkawan dekat dengan Mahar.

Motto keindahan yang ditawarkan bukan busa belaka: Lagu “Bunga Seroja” dinyanyikan untuk Ikal, kala dia rindu pada Gadis Berkuku Indah, Aling. Kisah Asmara pertamanya. Ikal, yang terpancar semangat Lintang, sehingga dia bisa ber-sekolah tinggi sampai dapat Bea siswa untuk pergi ke Sorbone, Paris. Bocah pendiam, tapi mempunyai kemauan yang kuat-keras: Bagaimana serius-ngotot-nya dia merayu Lintang agar mau mengantar ke Toko Sinar Harapan agar bisa ketemu dengan Aling, gadis yang dipuja hanya karena kuku indahnya itu. Meski hanya beberapa karakter tokoh (untuk anak Belitongnya) yang dimuncul-tonjolkan, tapi tidak mengurangi peran-fungsi tokoh-karakter lainnya. Seperti, Kucai, Sarah, Harun —yang menyelamatkan SD Muhammadiyah dan memberi senyuman bungah pada Bus Muslimah—, dan, seterus-lainnya….

Lain sisi, karakter pemain kawakan-senior pun ikut menentukan suksesnya Film itu. Tercatat: Cut mini, Ikranegara, Rieke Diah Pitaloka, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer dan seterusnya. Meski demikian, agak kecewa, sutradara tidak memberikan latar belakang yang lebih lugas-jelas, Ibu Mus (Cut Mini) dan pak Harfan (Ikranegara), sehingga mereka berdua memilih mengacuhkan Materi dan luluh dalam dunia pengabdian; Saya tahu hanya melalui Info dari Foto tua itu. Atau sengaja, agar penonton mau membaca Novelnya? Padahal, Pak Harfan dan Bu Muslimah merupakan Motor penggerak dunia “Laskar Pelangi”. Perangai sabar, tekun-ulet, sederhana-nerimo, dan, bejibun karakter baik-positif lainnya; yang Di masa sekarang susah sekali mencari tipe seperti mereka berdua. Mereka adalah jantung SD Muhammadiyah yang reot yang tak lebih baik dan (atau), mirip kandang sapi, tempat ke sepuluh “laskar pelangi” mengenyam pendidikan, dan, semoga menjadi inspirasi-spirit positif pendidikan di Indonesia pada Umumnya. Mereka adalah cerminan hati yang meng-acuhkan gemerlap pesona dunia-Duit. Membantu ribuan-jutaan anak yang termarjinalkan di Negeri Katulisntiwa untuk mengenyam pendidikan meski terpojok karena biaya yang masih mahal: hingga kini. Undang-undang BHP pun tak bisa menjamin semua anak negeri untuk mengenyam pendidikan Tinggi. Kecuali Kaum Borjuis-kapitalis.

Sedang untuk unsur nilai ke-Islaman saya jadi teringat motto Gus Dur: Pribumisasi Islam. Memunculkan Nilai-nilai lokal untuk interpreter Ke-Islaman. Seperti kerudung Bu Muslimah yang hanya terbalut di leher, tidak menutup semua rambut, apalagi cadar. Dan rok yang dikenakan hanya sampai ‘dengkul’, tidak menutup ‘tumit’. Ini menggambarkan: bahwa tak seharusnya kita memaksakan Perda syariat yang berisi simbol-simbol Syariat. Tapi lebih pada subtasi-isi; apalagi kita harus memperkosa-pecundangi budaya kita sendiri. Meski sekolah Islam tapi masih menerima siswa konghuchu-Tionghoa, Cina: Akiong. Pesan kuat “kameramen”, di salah satu set adegan ada tulisan Injil dan di bawahnya Al-Qur’an: memberi kesan agar Agama-agama di tanah air saling toleran, welas asih, dan memang semua itu bersahabat dari Tuhan yang Esa: Tuhan Yang Maha Kuasa. Bukan saling berebut, bertikai dan menghegemoni yang minoritas. Dan laiknya barang berharga, harusnya nilai-nilai luhur ini dibina-dipertahankan bukan dilenyap-leburkan. Apalagi disiksa agar musnah dari peradaban adi luhung Indonesia.

Pesan “ekletik” juga bisa terbaca jelas. Mahar yang luluh pada musik Jazz yang nota-bene musik beken dari Barat; musiknya orang pintar, kaum Borjuis, tapi juga bisa apresiasi pada musik melayu. “Ternyata musik melayu juga dahsyat Boy”, paparnya pada Ikal di depan Lintang. Meski kuat dalam memegang akidah, tapi tak abai pada hal Mistis: Pergi ke gua untuk meminta doa agar lulus, dan Ikal agar terselesai friksinya dengan Aling, gadis dambaan-idamannya. Lintang, meski paham betul akan matematika-eksakta, tapi dia juga tak abai akan hal-hal metaforis-sosialis: berkait Soekarno, Paris, buaya dan barangkali, Bodega? Dalam hal bahasa, meski kuat unsur nilai ke-Islaman; tapi tak tabu pada kata, semisal: Setan yang nota bene untuk konotasi negatif-buruk-jorok, misoh dalam bahasa jawa. Kata “Boy”, yang sering diucapkan Mahar; representasi bahasa Inggris-Barat. Juga, bahasa khas Melayu-Belitong mewarnai Film itu, dan, tentu, barangkali, mungkin, memberi “cita rasa” tersendiri bagi penikmat film Indonesia.

Terakhir, saya ingin mengutip perkataan Lintang saat ingin membangkitkan semangat rekan-rekannya kala semua mulai “lesu”: “Soekarno di tahan di Sukamiskin pada tanggal 29 Desember 1929: karena mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk tujuan Indonesia Merdeka. Ruangannya sempit: dikelilingi tembok-tembok Tebal yang Suram. Tinggi gelap dan berjeruji; lebih buruk daripada kelas kita yang sering Bocor. Tapi di situlah Beliau menjalani hukuman: tiap hari belajar, tiap waktu baca buku, Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang dimiliki oleh Indonesia”. Sekarang, apakah kita (“aku”, Anda, dan Masisir) masih mau, atau, barangkali, minimal berani, mengeluh antrian panjang saat membeli Muqorror, Ijro`at jawazat, bahkan masih beranikah kita menyerobot rekan sebangsa kala antri Musa’adah Jam’iyyah syar’iyyah. Bangku Kuliah yang jelek-ruangan yang kotor. Lebih bersibuki “jual kecap-dagang sapi” kampanye tanpa ada orientasi akademis-pengabdian yang jelas. Kita sebagai Objek, atau Subjek. Penggerak Motor suatu sistem, atau hanya mangsa untuk mengisi “lumbung suara” salah satu golongan; di mana kita tak menyadari itu. Pendidikan untuk pengabdian, bukan untuk memperbanyak suara Golongan tertentu. Bukankah begitu rekan?



NB: Tulisan ini akan, telah diterbitkan di Buletin Makar Rumah Budaya Akar: salah satu buletin Masisir(Mahasiswa Indoensia yang ber-domisili di Mesir-Kairo) yang aktif-konsen di bidang Budaya.